Monday, April 9, 2012

Bubur Tumpang Boyolali

Sudah dua minggu lalu saya ingin posting soal makanan ini, tapi baru hari ini ada kesempatan untuk nulis. So, here's the story! Dua minggu lalu saya dan keluarga kecil saya pergi ke rumah mertua, untuk monthly visit. Seperti kebiasaan selama ini, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat makan favorit. Tempatnya sederhana, sepetak lahan kosong yang diberi terpal untuk menutupi dari terik matahari, dan beberapa tempat duduk bambu bagi pelanggannya. Kadang ada beberapa ekor ayam berkeliaran, menyemarakkan suasana. Gadis kecil sayapun seringkali melonjak girang karenanya. Tempat ini hanya buka di pagi hari, dan jualan berakhir sebelum hari mulai siang. Pasti penasaran kan, itu lapak apa?? Ayo tebak, lapak apa yang buka pagi-pagi, menjual menu sarapan, dan berbangunan sederhana?! Adakah yang menebak lapak bubur? Yaaa!! Tempat itu adalah lapak mbok-mbok jualan bubur. 

 Lapak itu sederhana, menjual makanan sederhana, namun dapat memberi kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana. Kenapa begitu? Pertama, karena memang cita rasanya yang simply enak. Kedua, karena (ini nih, yang ibu-ibu sukai) simply murah. hahaha jadi, berat di lidah, ringan di dompet. Setiap habis bersantap di situ rasanya bersyukur atas kebahagiaan sederhana itu. 

Isi buburnya ada sambel tumpang (khas Boyolali), mie goreng, dan serundeng. Biasanya ada gorengan untuk melengkapi sajian bubur itu. Bubur disajikan dalam pincuk, lumayan buat mboknya, jadi ga usah wira-wiri cuci piring. Kami biasa pesan dua bubur, dan gorengan 5 biji. Semuanya berapa bu? Tujuh ribu nduk. Dan saya pun menangis bahagia. Syukur untuk ibu penjual bubur yang mampu membangkitkan kebahagiaan sederhana dalam diri saya.

Ini dia bentuk buburnya


Karena bahagia itu sederhana. Begitu.

No comments:

Post a Comment