Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Monday, March 19, 2012

Listen, Love

Kemarin hari saya menemukan wajah mama saya cemberut ga enak saat tiba di rumah setelah pergi dengan adik laki-laki saya. Intuisi saya mengatakan ada sesuatu yang salah, mungkin ada kejadian yang membuat mama tidak berkenan. Ternyata benar. Begitu keluar dari mobil, mama langsung mengomel pada bapak saya sambil meneteskan air mata. "Bukan kejadiannya mas, tapi ke ga didengarnya itu sing aku ke Lara-Lara". Begitu kira-kira omelan mama saya begitu menginjakkan kakinya di pekarangan. Adik saya nyerempet buk jembatan. Tak lama setelah itu saya pulang ke paviliun kecil saya untuk menghindar dari suasana tidak mengenakkan itu. Namun toh adik saya tetap saja memanggil saya untuk 'rapat' keluarga. Dalam rapat kecil-kecilan itu mama mengutarakan apa yang menjadi uneg2nya. Beliau mengatakan bahwa ada empat hal yang adik saya tidak mau lakukan. Sebenarnya kesemuanya itu adalah hal sepele, namun entah mengapa mama menganggapnya sebagai sesuatu yang besar. Mungkin karena beliau merasa tidak didengarkan oleh adik saya. 

Jadi, waktu itu mereka pergi ke Bantul, ke rumah eyang. Adik saya berinisiatif untuk mengantar mama ke sana. Namun mama sebenarnya menolak diantar dengan alasan takut adik saya masih ngantuk, dan alasan kedua, adik saya masih dalam masa ujian sekolah. That's one thing. Kemudian sesampainya di sana mama minta pada adik untuk memarkir mobilnya di seberang jalan aja, karena jalan masuk ke rumah eyang sangat sempit. Namun adik saya memaksa untuk parkir di dekat rumah eyang. Ada dua hal lagi yang adik lakukan dan membuat mama tidak berkenan, tapi saya udah lupa. Jadi biarlah dua hal itu menjadi misteri. Karena intinya toh bukan di situ. Nah, yang membuat saya berpikir adalah saat rapat itu, hanya mama saja yang mengungkapkan pikirannya. Adik saya sama sekali tidak diminta untuk memberi penjelasan atas tindakannya. Padahal jika adik saya bisa menjelaskan perilakunya, mungkin kesedihan mama tidak akan separah itu. Merasa tidak dituruti, tidak didengarkan. Itulah keluh kesah mama saya. Namun, jika kita mundur sejenak dan mengambil perspektif adik bisa saja ternyata maksudnya baik. Dalam pikiran saya, adik saya bersikeras mengantar mama pergi karena tidak tega membiarkan mamanya nyetir sendiri ke Bantul yang jauh walaupun beliau sudah sering melakukannya. Lalu saya kembali mencari alternatif alasan tentang kejadian yang kedua. Mungkinkah adik saya tidak ingin membuat mama jalan jauh membawa banyak barang dari rumah eyang sehingga Ia memutuskan untuk parkir mobil di dekat rumah saja. Jika kita melihat dari asumsi itu, maka sebenarnya perilaku yang dicap negatif dan dipersepsikan sebagai bentuk pembangkangan ternyata adalah bentuk cinta adik pada mama. Di sinilah letak pelajaran yang saya ambil. Bahwa jika kita mau berhenti sebentar dalam amarah dan kesedihan yang kita rasakan dan memberi orang lain kesempatan untuk menjelaskan dirinya, maka sebenarnya apa yang kita rasakan itu tidaklah perlu. 

Seringkali saya mengalami kesedihan atau rasa marah yang penyebabnya adalah saya bermain dengan persepsi saya sendiri. Dan pemecahannya adalah dengan cross check langsung. Sesederhana itu. Namun seringkali pula saya tidak melakukannya. Hehehe.. Baru saja terlintas dalam pikiran, bahwa begitu banyak kejadian yang berlalu begitu saja dalam kesalahpahaman. Kesalahanpahaman yang dikarenakan oleh ketidaksudian kita memberi kesempatan orang lain berbicara. Ketidakmauan kita mendengar dan malah asyik dalam fantasi kita sendiri. Hal ini sering sekali terjadi pada saya, seperti yang sudah disinggung di atas. saya jadi merasa mendapat cermin untuk berkaca. bahwa dalam mendidik anak, saya ingin memberi dia kesempatan yang banyak untuknya menjelaskan diri. Bahwa dalam berinteraksi dengan suami pun juga demikian. Dengan orang-orang terdekat lainnya. Dengan orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Itu perlu. Karena kita tidak akan pernah tahu motivasi orang jika kita tidak bertanya. Kita tidak akan tahu cinta yang mereka utarakan lewat tindakan yang dalam persepsi kita justru sebaliknya. Maka dari itu.. Listen, Love. Coz you might just find Love. :)

Thursday, March 15, 2012

Welcome Home!

Sudah beberapa waktu ini saya bergabung dengan sebuah kelompok yang ingin belajar tentang, dan menjadi sufi. Suatu kelompok yang mengupas makna dibalik ritual, membuat kita merenungi tentang kehidupan, Tuhan, dan agama. Kelompok ini berisikan orang-orang yang lucu, beberapa dari mereka senang berdiskusi, beberapa lainnya senang bercanda, dan beberapa lainnya hanya menyimak dalam diam sambil kebingungan. The latter would be me. Guru kami adalah seorang laki-laki asal Solo, seseorang yang kesannya 'urakan' namun ada sesuatu padanya. Beliau selalu menebarkan senyum lebarnya, senyum yang membuat orang menunduk malu dan enggan, bahkan saat hanya melihatnya di foto. 

Kemarin lusa ada exercise kecil yang membuat geger kelompok virtual itu. Kami diminta untuk mengenali diri dengan bercermin. Ada beberapa media yang dapat kita gunakan untuk bercermin: kaca cermin, air yang jernih tenang, dan pupil mata lawan bicara kita. Sebagian besar anggota kelompok kemudian sibuk menjajal eksperimen ini. Beberapa menemukan dirinya pada pantulan cermin. Benar-benar bertemu dengan 'seseorang' saat proses bercermin berlangsung. Ada juga yang hanya berputar-putar dalam pertanyaan demi pertanyaan. Pertanyaan universal: apakah yang kita cari? Beberapa orang lainnya hanya diam tidak berbagi tentang pengalamannya. Termasuk saya.

Saya memulai untuk bercermin dengan perasaan uneasy, antara bingung dengan apa yang dicari dan takut dengan apa yang kiranya akan saya temukan. Kemudian saya melihat saja pada cermin dengan hati dan pikiran kosong. Hanya mencoba menikmati proses ini dan membiarkan apa saja yang akan terjadi. Pertama saya melihat ke dalam pupil saya. Nothing there. Kemudian saya mengalihkan pandangan saya pada wajah saya. Saat itu saya melihat: wajah saya. Saya amati terus hingga akhirnya entah kenapa ada dorongan untuk tersenyum. Saya tersenyum pada diri saya sendiri. Sesaat setelah itu saya merasakan dorongan lain yaitu dorongan untuk memejamkan mata. Pada awalnya saya menolak untuk memejamkan mata, karena perintahnya adalah lihatlah ke dalam cermin. Kalo merem, mana bisa lihat ke dalam cermin? Begitu pikir saya berucap. Tapi kemudian pikiran lain muncul dan mengatakan apa salahnya mencoba, siapa tahu aku menemukan sesuatu. Lalu saya memejamkan kedua mata saya. Saat itu juga saya melihat dalam dada saya terdapat ruang yang berawan (atau berasap) putih dan lambat laun muncul asap berwarna pink jernih. Rasanya damai sekali di sana, seperti menemukan rumah yang lama hilang. Senyum saya semakin lebar. Pada waktu terbuai dalam rasa damai itu, saya merasa ada seseorang yang mengafirmasikan pada saya bahwa segala sesuatu baik-baik saja. 

Pada tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung soal perjumpaan saya dengan hati saya. Nah, pikiran saya langsung melayang pada gadis kecil yang saya jumpai dalam hati saya, namun saya tidak menemukannya. Sepintas lalu saya melihat dalam pandangan perifer saya seorang wanita, seseorang yang keibuan. Dan dia memeluk saya dengan kata-katanya bahwa segala sesuatu baik-baik saja. Sepertinya saya masih mengumpulkan puzzle nih. Puzzle misteri tentang dua sosok itu. Saya tidak terburu-buru untuk mengumpukan keping demi keping, karena Dia tau yang terbaik bagi seluruh ciptaanNya. Saya menunggu.

Pikiran saya juga melayang pada ingatan tentang asap berwarna pink ini. Beberapa hari sebelumnya saya sering menjumpai asap berwarna pink ini dalam 'keheningan' saya. Warna pink yang menyelimuti diri saya. Saat saya meminta petunjuk pada guru, beliau hanya mengatakan bahwa saya punya bakat. Tapi saya masih bingung apa bakat yang dimaksudkan. Sampai saat ini saya masih belum mengerti bakat yang guru saya bicarakan. Hari ini saya kembali meminta petunjuk mengenai warna pink itu. Alhamdulillah, saya mendapat jawaban. Guru bilang untuk melanjutkan, dan bahwa warna pink adalah warna Cinta. So, seems like I'm on the right track. Track I do not know where it would lead me to. I am waiting in awe, waiting nearly anxiously of what more to come. Hopefully this is the beginning of something good.

Inti dari perjalanan ini adalah menunggu.. Menunggu sambil berserah, menyerahkan segalanya pada Dia Yang Maha Tahu.

Monday, February 27, 2012

Kado Untukmu

Beberapa waktu lalu saya sempat jalan-jalan sekilas di blog Dee Lestari. Menelusuri judul demi judul tulisan yang pernah di-posting olehnya. Dan saya tertarik pada posting yang ada foto hitam-putih seorang perempuan berambut panjang yang saya tebak adalah ibunya. Ternyata benar, perempuan di foto itu adalah mendiang ibu Dee Lestari. Yang menarik dari post tersebut adalah saat dia berkata dia belum sempat mengenal sosok ibunya, pun sebaliknya; mungkin ibunya belum sempat mengenal anaknya juga. As a person. Sebagai seorang pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali terjebak dalam peran-peran yang lekat dengan kita, yang mau tidak mau harus kita mainkan. Misalnya saya, saya adalah seorang anak, saudara perempuan, istri, dan ibu. Saya adalah teman untuk teman-teman saya, mahasiswa bagi dosen saya. The list goes on. Begitu pintarnya kita bermain dalam peran-peran tersebut, sehingga terkadang kita lupa untuk kembali mencerna pribadi kita sendiri. Boro-boro mengambil waktu untuk berkenalan dengan pribadi lain di sekitar kita. Begitu kira-kira sepintas awal tulisan Dee dalam blognya.

Apa yang dikatakannya memang benar, setidaknya untuk saya. I can relate to what she said about her relationship with her late mother. Pikiran saya kemudian mengambil langkah untuk menyusuri labirin memori dalam otak saya dan mengevaluasi hubungan-hubungan yang saya punya dengan orang-orang di sekitar saya. My mind went: sepertinya pola hubunganku dengan sebagian besar orang dalam keluarga terbelenggu oleh peran-peran yang kami mainkan. Jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati, yang ada hanyalah penyampaian ekspektasi dari si A ke si B, dan penerimaan ekspektasi oleh B tanpa adanya komunikasi timbal balik untuk kebaikan keduanya (terutama si B). Lalu saya berpikir lagi, mengamati dan mencari dalam gudang memori saya tentang betapa banyaknya keinginan dan harapan saya yang tidak sempat saya perjuangkan karena saya terlalu baik berperan sebagai anak. Dan semaraklah peperangan dalam batin saya karena saya terpenjara, ingin bebas, namun tidak punya keberanian untuk melakukannya*eh saya kok jadi curcol*. Intinya saya merasa belum dihadiahi dan belum bisa menghadiahi keluarga saya dengan sebuah ketelanjangan.


Ya, kata yang berkonotasi vulgar memang. Tapi, mengutip guru saya “hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”. Telanjang. Menjadi telanjang. Ada dua arti yang melekat pada kata tersebut, arti harafiah dan kiasan. Menurut saya makna kiasan dari menjadi telanjang berarti dengan berani membeberkan pada dunia diri kita yang sebenarnya. Tanpa pretensi. Ga ada lagi jaim. Namun bagaimana lagi, hal itu adalah tabu dalam masyarakat kita. Seolah kita tidak baik dengan apa adanya diri kita. Lucunya lagi, kita seringkali merasa berkewajiban untuk memenuhi harapan yang mereka jangkarkan pada kita. Padahal mungkin aja harapan itu ga masuk akal atau ga cocok dengan kita. Contohnya adalah anggapan jamak bahwa hidup yang “sempurna” adalah lulus kuliah cepet, dapet kerja bagus di perusahaan top dengan gaji selangit, lalu menikah. Kalau sudah begitu tercapailah sudah cita-cita bangsa. Padahal menurut saya tiga rangkaian itu terdengar membosankan. Tidak saya pungkiri, dulu saya lulus kuliah cepet dan saat ini kepengen dapet kerjaan yang hasilnya selangit. I mean siapa sih yang ga mau berpenghasilan selangit?! Tapi bagi saya itu bukan tujuan. Itu hanyalah bagian dari cerita perjalanan hidup saya. Kalau memungkinkan, keluarga yang saya bina dan uang yang Tuhan beri melalui pekerjaan bisa dijadikan teman seperjalanan dan alat untuk menemukan tujuan akhir hidup saya. Yak, benar! Saya masih bingung tujuan akhir saya. The road is still under construction. Curcol lagi. Tapi begitulah kira-kira yang saya inginkan, berproses bersama orang-orang yang saya cintai dan menggunakan rejeki materiil yang telah diamanahkan pada saya untuk menemukan dan menggapai tujuan itu. Namun sayangnya, saya masih belum bisa all out menjadi telanjang tentang ini dengan keluarga saya; mainly because kita ga sealiran. Untung nemu suami yang sealiran, jadi lebih ringanlah jalanku karena “baju” yang kupakai dapat kutanggalkan saat bersamanya. Betapa saya ingin menghadiahi ketelanjangan pada mama, abi, dan adik-adik saya. Supaya mereka pun menghadiahi saya hal yang sama. Jadi kami benar-benar saling mengenal sebagai pribadi, bukan sebagai anak, orang tua, atau saudara.

Begitulah sekelumit tentang harapan, tujuan, dan ketelanjangan. Sudahkah anda telanjang? Siapa yang ingin anda hadiahi ketelanjangan anda? Karena “hadiah paling baik yang dapat kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”.

Wednesday, February 15, 2012

That Little Girl


Hari ini sebenarnya mungkin bukan pertama kali aku bersinggungan atau berhubungan dengan hatiku. Aku yakin hatiku sudah berjuta-juta kali mencoba untuk berkenalan denganku. Namun aku belum yakin, belum siap, belum mau untuk berkenalan dengannya. So, there it was. Hari ini akhirnya secara resmi aku berkenalan dengan hatiku sendiri. Hatiku… Luar biasa hebat. Penuh dengan keluasan dan kedalaman, yang menjadikannya penuh kasih dan kebijaksanaan. Hatiku kuat. Hatiku selalu mencoba untuk mengingatkan bahwa aku adalah individu yang kuat. Namun selama ini pikiran terlalu mendominasi kehidupanku. Ya, aktivitas di dalam otakku terlampau sibuk. Sering sekali melontarkan judgement-judgement negative tentang diriku sendiri. Dan aku seringkali, selalu, teryakinkan bahwa aku adalah individu yang lemah, jelek, dan segala macam sifat buruk lainnya. Padahal, aku baik-baik saja. Aku adalah individu yang kuat. Kekuatan itu selama ini terpendam. Terkubur dibawah bangunan kokoh bernama pikiran.

Aku terpesona. Begitu sangat terpesona. Seperti menemukan semangat baru, menemukan kekuatan baru. Aku merasa tidak sendirian, ada teman yang selalu setia menemani walau aku sedang “sendirian”. Dan hal ini membangkitkan kekuatan baru. Hatiku adalah seorang gadis kecil dengan gaun putih dan mahkota bunga. Cantik. Seperti matahari, cerah. Ceria. Bahagia. Selalu tertawa. Namun dibalik itu semua, ada kedewasaan dan kebijaksanaan polos khas anak-anak yang menjadi pondasi karakternya. Itulah aku.


Tentang Pohon

Pohon yang bijak..
Berikan sedikit kebijaksanaanmu padaku
Ajari aku tentang kelembutanmu
Tentang keanggunanmu
Kau tampak diam saja namun daya hidupmu besar
Jauh lebih besar daripada kami
Aku tak pandai menguntai kata untuk mendeskripsikan
dengan indah getaran yang kurasa saat melihatmu
Kau begitu teguh... damai
Damainya mengayomi

Sang Pen(c)ari


Pernah suatu ketika aku suka sekali menonton atau membaca buku-buku motivasional. Menurutku banyak dari baris-baris kata yang diucapkan atau ditorehkan bisa memberikan seberkas insight untukku. That’s why I liked such books or tv shows. Namun suatu ketika aku merasa sangat jenuh, jauh melebihi bosan. Jenuh dengan (waktu itu) ketidak mampuanku mencapai goal setting yang kutetapkan. Frustasi dengan situasi kegagalan itu, ditambah dengan omelan dari mama tersayang menyangkut pencapaian goal setting tersebut. Jenuh dengan segala konsep muluk-muluk yang dibicarakan oleh motivator-motivator itu. Memang, konsep mereka bagus semua, beberapa juga menyentuh hati dan pikiran. Tapi saat itu aku merasa, what if they’re all just bullshit? All these concepts? Bagaimana jika sebetulnya tidak ada konsep sama sekali dalam menjalani hidup ini? Bagaimana jika yang dibutuhkan hanya kesederhanaan? Tapi itu pun juga masih termasuk dalam kategori konsep.
Saat itu aku berpikir, all those motivators are great, but sometimes they make our (my, to be specific) life a tiny bit complicated. Menurutku sih, kita jadi semacam terjebak dengan konsep-konsep, sehingga (mungkin) lupa untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri itu seperti apa? Begitu logikaku bertanya. Disinilah.. sekali lagi terjebak dalam operasionalisasi. Begitulah. Aku selalu suka untuk bertanya, mengejar lebih dalam, menuntut operasionalisasi agar aku bisa paham. Ada yang bilang bahwa tidak usah bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan. Tetapi ini bagian dari pencarianku. Bagian dari pencarian atas diriku sendiri. Ya, begitulah aku. Orang yang masih mencari. Mencari apa, aku juga tidak tahu. Jangan-jangan ini cuma bentuk lain dari konsep-konsep yang dijejalkan pada kita? I don’t know.
Tapi aku suka bertanya. Aku suka bertanya tentang hidup, tentang kehidupan, tentang kita, tentang aku. Itu adalah bagian dari dahagaku atas kebutuhan terhadap sesuatu yang aku sendiri belum tahu juga. Kebermaknaan mungkin? Lagi-lagi itu merupakan konsep. Hahahaha. Mungkinkah konsep-konsep ini dilahirkan untuk kemudian dianut, dipahami, lalu dipertanyakan untuk pada akhirnya mengantarkan kita pada Pengetahuan Sejati?
Dari tadi aku berputar-putar gak jelas. Pikirku berkecamuk, saling menyanggah dan kadang saling mendukung pemikiran yang tercetus. Bagaikan kembang api yang silih berganti meletus, pikirku mencetus-cetus dalam sepersekian sekon. Namun aku masih belum memiliki kemampuan untuk menggabungkannya seperti puzzle sehingga terkadang yang muncul hanyalah kebingungan.

Monday, February 6, 2012

Color Me Softly!

Entah kenapa akhir-akhir ini lagi sukaaa sekali dengan warna ungu dan biru tua. Kesannya misterius, anggun, dan bijaksana. Kemarin saya iseng-iseng mencari tahu apa arti spiritual dari dua warna tersebut; maklum I'm a little superstitious! Dan ini yang saya dapatkan: 

Ungu adalah warna untuk good judgment, dan melambangkan magic, misteri, serta royalty. Meletakkan benda-benda berwarna ungu di sekitar blogger sekalian dapat membuat pikiran dan batin tenang. Gunakanlah warna ungu jika sedang ingin:
  • menggunakan imaginasi anda secara maksimal
  • menyeimbangkan kembali kehidupan anda
  • menjauhkan rintangan/halangan
  • menenangkan diri, atau membangkitkan semanga
Warna ungu merepresentasikan:
Inspirasi: Ide original dan bagus biasanya tercipta dengan warna ungu - gunakan pada saat anda mencari inspirasi.
Imajinasi: Ungu membangkitkan kreativitas - ungu juga menstimulasi aktivitas mimpi.
Individualitas: Ungu adalah warna yang tidak konvensional, individual dan original. Ia tidak suka meniru orang lain dan suka melakukan keinginannya sendiri.
Spiritualitas: Ungu membantu kita saat berdoa atau meditasi, membantu kita bersentuhan dengan alam bawah sadar kita.

Jika kekurangan warna ini akibatnya adalah perasaan tidak berdaya, tidak dapat membuat keputusan, menjadi negatif dan apatis. Tidak ada passion saat melakukan sesuatu. Apabila ada sumbatan pada chakra yang berwarna ini, maka energi spiritual tidak dapat mengalir, dan hidup menjadi stagnan dan tidak bermakna.
The Magic of Purple
Hmmm... Sounds very very familiar. Keren juga yah! Ternyata hati selalu membisikkan banyak hal tentang kondisi kita. Saya merasa kesukaan saya yang tiba-tiba terhadap warna ungu adalah bisikan hati untuk menyeimbangkan kembali kondisi saya yang saat ini sedang agak down. Bisikan itu kemudian menjadi tindakan ketika saya membeli bahan berwarna ungu tua minggu lalu saat menemani ibu mertua jalan-jalan mencari kain. Saya jatuh cinta dengan kain itu dan dengan spontan muncul keinginan untuk membelinya (mmm.. mungkin bisa agak rancu ya dengan impulsif hihihi). Pada saat membeli kain tersebut saya sebenarnya masih belum memiliki gambaran akan dijadikan apa. Namun sehari kemudian kakak ipar saya datang kerumah dan memberitahu kami bahwa ada sepupu yang akan menikah di bulan Juni nanti. Kakak ipar saya memiliki ide untuk membuat seragam keluarga. Horeeee akhirnya saya tahu kain itu akan jadi apa nantinya. Kain bawahan kebaya! Very excited about this, karena berarti saya akan menjahit kebaya baru! (dasar wanita!). This means more purple! Maybe I really need purple in my life.

Warna lain yang sedang saya gandrungi saat ini adalah biru tua seperti warna laut. Saya suka sekali kain satin warna biru tersebut. Matang, sexy, dan elegan. Ternyata biru adalah simbol dari komunikasi, baik komunikasi keluar maupun ke dalam diri, serta ekspresi diri. Warna biru dapat membawa kegembiraan, ketenangan, ketulusan, keyakinan diri dan kepercayaan (trust) kepada orang lain. Biru adalah warna yang baik untuk urusan karir dan bisnis. Apabila hidup kita kekurangan warna ini, maka kita dapat menarik diri, depresif, manipulatif, tidak dapat diandalkan, ngeyel, dan tidak mau berubah. Kita dapat merasa lemah, takut, tidak dapat mengekspresikan pikiran, tidak konsisten, tergantung, menekan perasaan. Kata kunci untuk warna biru adalah komunikasi, spiritualitas, kontemplasi, misteri, kesabaran, kesucian, kedamaian, trust, healing, kejujuran, dan pemaafan.

The Power of Blue


Lagi-lagi terdengar sangat familier di telinga. I really do need to add more blue in my life, especially since it promotes forgiveness and healing. Sekali lagi, saya amazed dengan hati saya yang selalu membisikkan apa yang sedang saya butuhkan. Terimakasih hati.

Selain dua warna yang lagi saya gandrungi di atas, ada satu warna yang telah menjadi all time favourite bagi saya yaitu pink! Warna merah muda dengan berbagai gradasinya selalu menarik hati dan perhatian saya; terutama warna dusty pink atau baby pink. Rasanya sejuk sekali di hati. Being the superstitious person that I am, I also looked up the meaning of the color. Pink adalah warna untuk universal love. Cinta untuk diri sendiri dan orang lain, persahabatan, kasih sayang, harmoni, kedamaian diri. Sifatnya lembut, santai, dan mudah didekati. Hmm... Saya jadi ingat kalau punya gemstone warna pink, rose quartz lebih tepatnya. Saat memakai batu itu sebagai kalung, saya bisa merasakan adanya perbedaan, terutama cara saya menghadapi seseorang yang bermakna bagi saya namun saat ini ada friksi di antara kami.Saya jadi lebih understanding terhadap beliau, dan lebih penuh kasih. Mungkin anda perlu mencobanya! And feel it for yourself.

The Soft Pink


So, what color do you like?


Wednesday, January 18, 2012

Ma Princesse

Sudah hampir 5 bulan ini saya memasuki fase hidup yang baru: motherhood. Tak terkira betapa banyak tawa, senyum, air mata, dan peluh yang tercurah selama 4,5 bulan yang mengesankan ini. Namanya Kania Larasati Endriyanto. Makhluk kecil yang menyebabkan sakit luar biasa pada detik-detik jelang kelahirannya; namun secara kontradiktif juga memberi rasa bahagia yang tak kalah luar biasanya saat ia sudah hadir ke dunia. Rasanya masih segar dalam ingatan saat pertama kali bidan pembantu menyerahkan si kecil padaku untuk IMD. Hanya ada rasa bahagia saja saat itu. Aku dan suamiku tersedot dalam pusaran waktu kekinian. Rasa sakit yang kurasakan selama berjam-jam sebelumnya, dan bahkan rasa mak clekit saat dokter menjahitku sama sekali tak terasa. Sungguh indah. Alhamdulillah Tuhan SWT sudah mempercayaiku dan suamiku untuk menjadi sarana bagi Kania lahir ke dunia ini.

Kania saat pulang dari RSB, 3 days old

Saya belajar banyak hal hari demi hari menjalani waktu bersama dengan Kania. Saya belajar tentang diri sendiri, tentang bagaimana diri saya ini. Saya belajar mengenai berbagi, dalam hal ini berbagi waktu. Kadang rasanya sulit sekali berbagi waktu dengan bayiku, maksud saya saat saya sedang "me time" dan tiba-tiba bayi saya menangis atau apapun. Pada saat itu kadang saya merasa agak kesal, namun di situ muncul kesempatan bagi saya untuk belajar tentang ikhlas. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel "Negeri Lima Menara", saya acapkali berdoa dan berucap "saya ikhlas" untuk mengikhlaskan hati dan diri saya sepenuhnya saat harus berbagi waktu dengan anak saya. Semua saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang perhatian bagi anaknya, karena sejujurnya sampai saat ini saya masih harus belajar banyak untuk menjadi pribadi yang perhatian. Terkadang  egoisme atau carelessness masih suka hinggap dalam diri saya. 

Hal lain yang saya pelajari selama 4,5 bulan interaksi saya dengan bayi saya adalah kesabaran. Saya adalah pribadi yang secara emosi reaktif. Begitu ada stimulus langsung saya respon, baik secara psikologis atau secara fisik, sampai-sampai acapkali tidak ada ruang untuk menarik nafas agar dapat memberi logika kesempatan. Dengan adanya Kania dalam hidup saya, saya belajar untuk menarik nafas sebentar untuk memperbaiki respon otomatis saya, entah itu merasa sedih, jengkel, marah atau apapun. Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya rasakan pasti akan ter-transfer kepada bayi saya, sehingga saya sedikit demi sedikit belajar untuk memberi ruang supaya urat kesabaran saya sedikit lebih panjang. Perjalanan sehidup semati ini memberi saya peluang belajar yang teramat banyak. 


 Seolah tiada bosannya ia mengajari saya, hari ini Kania melakukan sesuatu yang khas anak-anak dan membuat saya tertegun. Saat itu saya sedang bermain dengannya, dan tiba-tiba ia menangis terusik oleh papanya yang menghujaninya dengan ciuman gemas. Tangisan itu berhenti seketika saat saya menyanyikan salah satu lagu kesukaannya, twinkle twinkle little star. Apa yang telah ia ajarkan pada saya? Suatu filosofi hidup yang dalam. Dari dulu saya yakin bahwa anak-anak atau bayi sekalipun adalah guru yang luar biasa bagi siapa saja yang berhenti sejenak dan mengosongkan diri. Sehingga saya sangat bersyukur memiliki guru kecil milik saya sendiri. 

Anak-anak pandai sekali dalam hal living in the moment. Inilah yang Kania ajarkan pada saya hari ini. To live in the moment. Sesuatu yang sudah tidak asing bagi saya, suatu cerita lama, namun sampai detik ini saya masih terseok-seok untuk mempraktekkannya. Kania yang langsung ceria segera setelah ia menangis, mengajarkan pada saya bahwa jika kita hidup pada kekinian maka luka-luka batin dan kemarahan di masa lalu tidaklah penting. Semua itu sudah tidak ada; yang ada hanyalah stimulus yang mendatangi saya saat ini.  Stimulus dan respon yang saya berikan saat ini pun pada akhirnya akan berlalu. Gone. Raib. Diganti dengan kekinian yang lain. Hebat! Bayi saya sangat pandai dalam mengosongkan diri! Dia juga sangat pandai dalam menjadi sarana bagi Tuhan SWT mengajari saya banyak hal.
Perjalanan saya dengan anak saya merupakan proses belajar tiada henti untuk anak saya dan terutama untuk saya. Saya masih ingat betapa excited'nya saya saat menanti kelahiran bayi saya; I was very much looking forward to the lessons that she brings for me and her dad. Ternyata banyak pelajaran yang guru kecil ini berikan pada kedua orang tuanya. And I feel blessed. Terima kasih guru kecilku. Mommy always loves you.

Kania saat lagi diisengin bundanya, last month