Monday, February 27, 2012

Kado Untukmu

Beberapa waktu lalu saya sempat jalan-jalan sekilas di blog Dee Lestari. Menelusuri judul demi judul tulisan yang pernah di-posting olehnya. Dan saya tertarik pada posting yang ada foto hitam-putih seorang perempuan berambut panjang yang saya tebak adalah ibunya. Ternyata benar, perempuan di foto itu adalah mendiang ibu Dee Lestari. Yang menarik dari post tersebut adalah saat dia berkata dia belum sempat mengenal sosok ibunya, pun sebaliknya; mungkin ibunya belum sempat mengenal anaknya juga. As a person. Sebagai seorang pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali terjebak dalam peran-peran yang lekat dengan kita, yang mau tidak mau harus kita mainkan. Misalnya saya, saya adalah seorang anak, saudara perempuan, istri, dan ibu. Saya adalah teman untuk teman-teman saya, mahasiswa bagi dosen saya. The list goes on. Begitu pintarnya kita bermain dalam peran-peran tersebut, sehingga terkadang kita lupa untuk kembali mencerna pribadi kita sendiri. Boro-boro mengambil waktu untuk berkenalan dengan pribadi lain di sekitar kita. Begitu kira-kira sepintas awal tulisan Dee dalam blognya.

Apa yang dikatakannya memang benar, setidaknya untuk saya. I can relate to what she said about her relationship with her late mother. Pikiran saya kemudian mengambil langkah untuk menyusuri labirin memori dalam otak saya dan mengevaluasi hubungan-hubungan yang saya punya dengan orang-orang di sekitar saya. My mind went: sepertinya pola hubunganku dengan sebagian besar orang dalam keluarga terbelenggu oleh peran-peran yang kami mainkan. Jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati, yang ada hanyalah penyampaian ekspektasi dari si A ke si B, dan penerimaan ekspektasi oleh B tanpa adanya komunikasi timbal balik untuk kebaikan keduanya (terutama si B). Lalu saya berpikir lagi, mengamati dan mencari dalam gudang memori saya tentang betapa banyaknya keinginan dan harapan saya yang tidak sempat saya perjuangkan karena saya terlalu baik berperan sebagai anak. Dan semaraklah peperangan dalam batin saya karena saya terpenjara, ingin bebas, namun tidak punya keberanian untuk melakukannya*eh saya kok jadi curcol*. Intinya saya merasa belum dihadiahi dan belum bisa menghadiahi keluarga saya dengan sebuah ketelanjangan.


Ya, kata yang berkonotasi vulgar memang. Tapi, mengutip guru saya “hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”. Telanjang. Menjadi telanjang. Ada dua arti yang melekat pada kata tersebut, arti harafiah dan kiasan. Menurut saya makna kiasan dari menjadi telanjang berarti dengan berani membeberkan pada dunia diri kita yang sebenarnya. Tanpa pretensi. Ga ada lagi jaim. Namun bagaimana lagi, hal itu adalah tabu dalam masyarakat kita. Seolah kita tidak baik dengan apa adanya diri kita. Lucunya lagi, kita seringkali merasa berkewajiban untuk memenuhi harapan yang mereka jangkarkan pada kita. Padahal mungkin aja harapan itu ga masuk akal atau ga cocok dengan kita. Contohnya adalah anggapan jamak bahwa hidup yang “sempurna” adalah lulus kuliah cepet, dapet kerja bagus di perusahaan top dengan gaji selangit, lalu menikah. Kalau sudah begitu tercapailah sudah cita-cita bangsa. Padahal menurut saya tiga rangkaian itu terdengar membosankan. Tidak saya pungkiri, dulu saya lulus kuliah cepet dan saat ini kepengen dapet kerjaan yang hasilnya selangit. I mean siapa sih yang ga mau berpenghasilan selangit?! Tapi bagi saya itu bukan tujuan. Itu hanyalah bagian dari cerita perjalanan hidup saya. Kalau memungkinkan, keluarga yang saya bina dan uang yang Tuhan beri melalui pekerjaan bisa dijadikan teman seperjalanan dan alat untuk menemukan tujuan akhir hidup saya. Yak, benar! Saya masih bingung tujuan akhir saya. The road is still under construction. Curcol lagi. Tapi begitulah kira-kira yang saya inginkan, berproses bersama orang-orang yang saya cintai dan menggunakan rejeki materiil yang telah diamanahkan pada saya untuk menemukan dan menggapai tujuan itu. Namun sayangnya, saya masih belum bisa all out menjadi telanjang tentang ini dengan keluarga saya; mainly because kita ga sealiran. Untung nemu suami yang sealiran, jadi lebih ringanlah jalanku karena “baju” yang kupakai dapat kutanggalkan saat bersamanya. Betapa saya ingin menghadiahi ketelanjangan pada mama, abi, dan adik-adik saya. Supaya mereka pun menghadiahi saya hal yang sama. Jadi kami benar-benar saling mengenal sebagai pribadi, bukan sebagai anak, orang tua, atau saudara.

Begitulah sekelumit tentang harapan, tujuan, dan ketelanjangan. Sudahkah anda telanjang? Siapa yang ingin anda hadiahi ketelanjangan anda? Karena “hadiah paling baik yang dapat kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”.

Wednesday, February 15, 2012

That Little Girl


Hari ini sebenarnya mungkin bukan pertama kali aku bersinggungan atau berhubungan dengan hatiku. Aku yakin hatiku sudah berjuta-juta kali mencoba untuk berkenalan denganku. Namun aku belum yakin, belum siap, belum mau untuk berkenalan dengannya. So, there it was. Hari ini akhirnya secara resmi aku berkenalan dengan hatiku sendiri. Hatiku… Luar biasa hebat. Penuh dengan keluasan dan kedalaman, yang menjadikannya penuh kasih dan kebijaksanaan. Hatiku kuat. Hatiku selalu mencoba untuk mengingatkan bahwa aku adalah individu yang kuat. Namun selama ini pikiran terlalu mendominasi kehidupanku. Ya, aktivitas di dalam otakku terlampau sibuk. Sering sekali melontarkan judgement-judgement negative tentang diriku sendiri. Dan aku seringkali, selalu, teryakinkan bahwa aku adalah individu yang lemah, jelek, dan segala macam sifat buruk lainnya. Padahal, aku baik-baik saja. Aku adalah individu yang kuat. Kekuatan itu selama ini terpendam. Terkubur dibawah bangunan kokoh bernama pikiran.

Aku terpesona. Begitu sangat terpesona. Seperti menemukan semangat baru, menemukan kekuatan baru. Aku merasa tidak sendirian, ada teman yang selalu setia menemani walau aku sedang “sendirian”. Dan hal ini membangkitkan kekuatan baru. Hatiku adalah seorang gadis kecil dengan gaun putih dan mahkota bunga. Cantik. Seperti matahari, cerah. Ceria. Bahagia. Selalu tertawa. Namun dibalik itu semua, ada kedewasaan dan kebijaksanaan polos khas anak-anak yang menjadi pondasi karakternya. Itulah aku.


Tentang Pohon

Pohon yang bijak..
Berikan sedikit kebijaksanaanmu padaku
Ajari aku tentang kelembutanmu
Tentang keanggunanmu
Kau tampak diam saja namun daya hidupmu besar
Jauh lebih besar daripada kami
Aku tak pandai menguntai kata untuk mendeskripsikan
dengan indah getaran yang kurasa saat melihatmu
Kau begitu teguh... damai
Damainya mengayomi

Sang Pen(c)ari


Pernah suatu ketika aku suka sekali menonton atau membaca buku-buku motivasional. Menurutku banyak dari baris-baris kata yang diucapkan atau ditorehkan bisa memberikan seberkas insight untukku. That’s why I liked such books or tv shows. Namun suatu ketika aku merasa sangat jenuh, jauh melebihi bosan. Jenuh dengan (waktu itu) ketidak mampuanku mencapai goal setting yang kutetapkan. Frustasi dengan situasi kegagalan itu, ditambah dengan omelan dari mama tersayang menyangkut pencapaian goal setting tersebut. Jenuh dengan segala konsep muluk-muluk yang dibicarakan oleh motivator-motivator itu. Memang, konsep mereka bagus semua, beberapa juga menyentuh hati dan pikiran. Tapi saat itu aku merasa, what if they’re all just bullshit? All these concepts? Bagaimana jika sebetulnya tidak ada konsep sama sekali dalam menjalani hidup ini? Bagaimana jika yang dibutuhkan hanya kesederhanaan? Tapi itu pun juga masih termasuk dalam kategori konsep.
Saat itu aku berpikir, all those motivators are great, but sometimes they make our (my, to be specific) life a tiny bit complicated. Menurutku sih, kita jadi semacam terjebak dengan konsep-konsep, sehingga (mungkin) lupa untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri itu seperti apa? Begitu logikaku bertanya. Disinilah.. sekali lagi terjebak dalam operasionalisasi. Begitulah. Aku selalu suka untuk bertanya, mengejar lebih dalam, menuntut operasionalisasi agar aku bisa paham. Ada yang bilang bahwa tidak usah bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan. Tetapi ini bagian dari pencarianku. Bagian dari pencarian atas diriku sendiri. Ya, begitulah aku. Orang yang masih mencari. Mencari apa, aku juga tidak tahu. Jangan-jangan ini cuma bentuk lain dari konsep-konsep yang dijejalkan pada kita? I don’t know.
Tapi aku suka bertanya. Aku suka bertanya tentang hidup, tentang kehidupan, tentang kita, tentang aku. Itu adalah bagian dari dahagaku atas kebutuhan terhadap sesuatu yang aku sendiri belum tahu juga. Kebermaknaan mungkin? Lagi-lagi itu merupakan konsep. Hahahaha. Mungkinkah konsep-konsep ini dilahirkan untuk kemudian dianut, dipahami, lalu dipertanyakan untuk pada akhirnya mengantarkan kita pada Pengetahuan Sejati?
Dari tadi aku berputar-putar gak jelas. Pikirku berkecamuk, saling menyanggah dan kadang saling mendukung pemikiran yang tercetus. Bagaikan kembang api yang silih berganti meletus, pikirku mencetus-cetus dalam sepersekian sekon. Namun aku masih belum memiliki kemampuan untuk menggabungkannya seperti puzzle sehingga terkadang yang muncul hanyalah kebingungan.

Monday, February 6, 2012

Color Me Softly!

Entah kenapa akhir-akhir ini lagi sukaaa sekali dengan warna ungu dan biru tua. Kesannya misterius, anggun, dan bijaksana. Kemarin saya iseng-iseng mencari tahu apa arti spiritual dari dua warna tersebut; maklum I'm a little superstitious! Dan ini yang saya dapatkan: 

Ungu adalah warna untuk good judgment, dan melambangkan magic, misteri, serta royalty. Meletakkan benda-benda berwarna ungu di sekitar blogger sekalian dapat membuat pikiran dan batin tenang. Gunakanlah warna ungu jika sedang ingin:
  • menggunakan imaginasi anda secara maksimal
  • menyeimbangkan kembali kehidupan anda
  • menjauhkan rintangan/halangan
  • menenangkan diri, atau membangkitkan semanga
Warna ungu merepresentasikan:
Inspirasi: Ide original dan bagus biasanya tercipta dengan warna ungu - gunakan pada saat anda mencari inspirasi.
Imajinasi: Ungu membangkitkan kreativitas - ungu juga menstimulasi aktivitas mimpi.
Individualitas: Ungu adalah warna yang tidak konvensional, individual dan original. Ia tidak suka meniru orang lain dan suka melakukan keinginannya sendiri.
Spiritualitas: Ungu membantu kita saat berdoa atau meditasi, membantu kita bersentuhan dengan alam bawah sadar kita.

Jika kekurangan warna ini akibatnya adalah perasaan tidak berdaya, tidak dapat membuat keputusan, menjadi negatif dan apatis. Tidak ada passion saat melakukan sesuatu. Apabila ada sumbatan pada chakra yang berwarna ini, maka energi spiritual tidak dapat mengalir, dan hidup menjadi stagnan dan tidak bermakna.
The Magic of Purple
Hmmm... Sounds very very familiar. Keren juga yah! Ternyata hati selalu membisikkan banyak hal tentang kondisi kita. Saya merasa kesukaan saya yang tiba-tiba terhadap warna ungu adalah bisikan hati untuk menyeimbangkan kembali kondisi saya yang saat ini sedang agak down. Bisikan itu kemudian menjadi tindakan ketika saya membeli bahan berwarna ungu tua minggu lalu saat menemani ibu mertua jalan-jalan mencari kain. Saya jatuh cinta dengan kain itu dan dengan spontan muncul keinginan untuk membelinya (mmm.. mungkin bisa agak rancu ya dengan impulsif hihihi). Pada saat membeli kain tersebut saya sebenarnya masih belum memiliki gambaran akan dijadikan apa. Namun sehari kemudian kakak ipar saya datang kerumah dan memberitahu kami bahwa ada sepupu yang akan menikah di bulan Juni nanti. Kakak ipar saya memiliki ide untuk membuat seragam keluarga. Horeeee akhirnya saya tahu kain itu akan jadi apa nantinya. Kain bawahan kebaya! Very excited about this, karena berarti saya akan menjahit kebaya baru! (dasar wanita!). This means more purple! Maybe I really need purple in my life.

Warna lain yang sedang saya gandrungi saat ini adalah biru tua seperti warna laut. Saya suka sekali kain satin warna biru tersebut. Matang, sexy, dan elegan. Ternyata biru adalah simbol dari komunikasi, baik komunikasi keluar maupun ke dalam diri, serta ekspresi diri. Warna biru dapat membawa kegembiraan, ketenangan, ketulusan, keyakinan diri dan kepercayaan (trust) kepada orang lain. Biru adalah warna yang baik untuk urusan karir dan bisnis. Apabila hidup kita kekurangan warna ini, maka kita dapat menarik diri, depresif, manipulatif, tidak dapat diandalkan, ngeyel, dan tidak mau berubah. Kita dapat merasa lemah, takut, tidak dapat mengekspresikan pikiran, tidak konsisten, tergantung, menekan perasaan. Kata kunci untuk warna biru adalah komunikasi, spiritualitas, kontemplasi, misteri, kesabaran, kesucian, kedamaian, trust, healing, kejujuran, dan pemaafan.

The Power of Blue


Lagi-lagi terdengar sangat familier di telinga. I really do need to add more blue in my life, especially since it promotes forgiveness and healing. Sekali lagi, saya amazed dengan hati saya yang selalu membisikkan apa yang sedang saya butuhkan. Terimakasih hati.

Selain dua warna yang lagi saya gandrungi di atas, ada satu warna yang telah menjadi all time favourite bagi saya yaitu pink! Warna merah muda dengan berbagai gradasinya selalu menarik hati dan perhatian saya; terutama warna dusty pink atau baby pink. Rasanya sejuk sekali di hati. Being the superstitious person that I am, I also looked up the meaning of the color. Pink adalah warna untuk universal love. Cinta untuk diri sendiri dan orang lain, persahabatan, kasih sayang, harmoni, kedamaian diri. Sifatnya lembut, santai, dan mudah didekati. Hmm... Saya jadi ingat kalau punya gemstone warna pink, rose quartz lebih tepatnya. Saat memakai batu itu sebagai kalung, saya bisa merasakan adanya perbedaan, terutama cara saya menghadapi seseorang yang bermakna bagi saya namun saat ini ada friksi di antara kami.Saya jadi lebih understanding terhadap beliau, dan lebih penuh kasih. Mungkin anda perlu mencobanya! And feel it for yourself.

The Soft Pink


So, what color do you like?


Me Time: Bookgasm!

Wuiiih serunya hari ini! Rencana ke kampus untuk KRS-an saya batalkan karena ingin menunggu kabar dari teman-teman yang lain tentang KRS online yang baru akan diselenggarakan. YEP! Took nearly 10 years since the program established that the faculty decides to set up an online KRS system! Finally!!! Tapi bukan itu yang membuat saya senang hari ini! Setelah membatalkan niat saya pergi ke kampus, saya belokkan langkah motor saya ke Jl. Jendral Sudirman, disanalah saya berbelok ke sebuah gedung yang 
menjual buku: GRAM*DIA!! Sendiri! Something I rarely have these days, a time alone, berlama-lama doing what I like :D

Tempat itu kadang membosankan untuk saya, namun secara kontradiktif dapat menyejukkan saat jiwa sedang kering. Dan, parkirlah saya di dalam toko itu. Sebenarnya tidak ada keinginan yang pasti buku apa yang ingin saya beli, tapi hal itu tidak menyurutkan niat untuk menyambangi lantai atas, yaitu bagian buku. Di sana saya berjalan menyusuri rak-rak, dan sampailah saya pada bagian agama, bagian yang jarang sekali saya datangi jika sedang berbelanja di sana. Mungkin itu desakan hati, karena terus terang saja akhir-akhir ini saya merasa agak kering. Rindu yang sangat, namun tak tau harus berbuat apa. 

Saya menyusuri bagian agama, dan tiba-tiba tertarik dengan sebuah buku karya M. Quraish Shihab tentang doa-doa Asmaul husna. I looked through the book and found a piece that touched me, yaitu asma Allah Al-Lathif yang artinya Maha Lembut. Doanya indah sekali, saya lupa sebagian besar dari doa itu tapi ada yang sangat membekas: "kami tidak meminta takdir yang sudah berlalu untuk diubah, namun berikanlah takdir kami dengan lembut" atau semacamnya, saya tidak ingat persisnya. Subhanallah. Saya terharu sekali. Ya, saat ini saya memang sedang mengalami masa "what if..." dan "kok gitu sih, kok gini sih" dan kata-kata itu menyentuh yang terdalam dari hati saya. Sudah saatnya untuk melepas semua luka masa lalu dan berusaha untuk pulih. Amiin.

Buku karya M. Quraish Shihab yang ada di to-buy-list saya

Buku itu langsung masuk dalam "to-buy-list" saya, namun saya memutuskan untuk melihat-lihat buku yang lain. Ada beberapa buku yang menurut saya menarik, yang satu tentang 30 kisah sufi, dan yang satu lagi berjudul "Hening Perjalanan Ke Dalam Diri Untuk Mensyukuri Nikmatnya". Setelah membolak balik halaman kedua buku tersebut secara acak, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada buku yang kedua. Menurut saya buku itu pas sesuai kondisi saya saat ini yang membutuhkan siraman rohani. Ada salah satu bagian dalam buku itu yang membahas tentang Cinta Tuhan. Sang penulis tertegun saat seseorang bertanya apakah dirinya mencintai Tuhan. Beliau kemudian merenung, bingung menjawabnya. Beliau berkata bahwa Cinta Tuhan tidak terperi untuk dikatakan dengan kata. Wow! Menarik! Jadilah buku itu saya gembol untuk dibayar.

Ini dia bentuk halaman depan dari buku "Hening" karya Cahya Purnawan

Dahaga saya untuk melihat-lihat buku lain tidak habis di situ. Saya kemudian menyusuri bagian novel, dan menemukan beberapa yang layak dipertimbangkan untuk dibeli. Namun saat membaca resensi buku yang ada di tangan, mata saya tertuju pada buku biru berjudul "The Geography of Bliss". Hmmm menarik. Judul buku tersebut lebih mirip buku self-help, namun kok ada di bagian novel yaah, pikir saya. Segera setelah selesai membaca resensi buku yang ada di tangan, saya mengambil novel tersebut. Dan langsung jatuh cinta. Tag line novel ini bertuliskan: kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan. Jenius! Saya terheran-heran dengan ide orang ini untuk berkeliling dunia dan mencari tempat mana yang paling bahagia. A little eccentric in a way, but fun!

Ini bentuk depan buku yang menyenangkan itu!

Itulah sekelumit kisah hari ini, memiliki me-time dan mengalami bookgasm. How do you spend your me-time? What gets you high?