Pernah suatu ketika aku suka sekali menonton atau membaca
buku-buku motivasional. Menurutku banyak dari baris-baris kata yang diucapkan atau
ditorehkan bisa memberikan seberkas insight untukku. That’s why I liked such
books or tv shows. Namun suatu ketika aku merasa sangat jenuh, jauh melebihi bosan.
Jenuh dengan (waktu itu) ketidak mampuanku mencapai goal setting yang
kutetapkan. Frustasi dengan situasi kegagalan itu, ditambah dengan omelan dari
mama tersayang menyangkut pencapaian goal setting tersebut. Jenuh dengan segala
konsep muluk-muluk yang dibicarakan oleh motivator-motivator itu. Memang,
konsep mereka bagus semua, beberapa juga menyentuh hati dan pikiran. Tapi saat itu
aku merasa, what if they’re all just bullshit? All these concepts? Bagaimana jika
sebetulnya tidak ada konsep sama sekali dalam menjalani hidup ini? Bagaimana jika
yang dibutuhkan hanya kesederhanaan? Tapi itu pun juga masih termasuk dalam kategori
konsep.
Saat itu aku berpikir, all those motivators are
great, but sometimes they make our (my, to be specific) life a tiny bit
complicated. Menurutku sih, kita jadi semacam terjebak dengan konsep-konsep,
sehingga (mungkin) lupa untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri itu seperti
apa? Begitu logikaku bertanya. Disinilah.. sekali lagi terjebak dalam
operasionalisasi. Begitulah. Aku selalu suka untuk bertanya, mengejar lebih dalam,
menuntut operasionalisasi agar aku bisa paham. Ada yang bilang bahwa tidak usah
bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan. Tetapi ini bagian dari
pencarianku. Bagian dari pencarian atas diriku sendiri. Ya, begitulah aku. Orang
yang masih mencari. Mencari apa, aku juga tidak tahu. Jangan-jangan ini cuma bentuk
lain dari konsep-konsep yang dijejalkan pada kita? I don’t know.
Tapi aku suka bertanya. Aku suka bertanya tentang hidup,
tentang kehidupan, tentang kita, tentang aku. Itu adalah bagian dari dahagaku atas
kebutuhan terhadap sesuatu yang aku sendiri belum tahu juga. Kebermaknaan mungkin?
Lagi-lagi itu merupakan konsep. Hahahaha. Mungkinkah konsep-konsep ini dilahirkan
untuk kemudian dianut, dipahami, lalu dipertanyakan untuk pada akhirnya mengantarkan
kita pada Pengetahuan Sejati?
Dari tadi aku berputar-putar gak jelas. Pikirku berkecamuk,
saling menyanggah dan kadang saling mendukung pemikiran yang tercetus. Bagaikan
kembang api yang silih berganti meletus, pikirku mencetus-cetus dalam sepersekian
sekon. Namun aku masih belum memiliki kemampuan untuk menggabungkannya seperti
puzzle sehingga terkadang yang muncul hanyalah kebingungan.
No comments:
Post a Comment