Tuesday, January 31, 2012

Welcome, Angel!

Kemarin pagi saya mendapat kabar kalau kakak sepupu melahirkan anak keduanya. Alhamdulillah. Anak laki-laki lagi, sesuai keinginan bapaknya! Bayinya sehat, lucu banget, nyempluk kayak bakpao dengan berat badan 4kg panjang 50cm. Saya kira ga ada yang nandingin pipi tembemnya Kania, tapi dengan lahirnya dedek bayi yang belum bernama itu maka secara resmi pipi Kania terkalahkan.

Sore harinya kami sekeluarga berkunjung menjenguk the little precious. Saat duduk berbincang dengan kakak, ingatan saya tiba-tiba melayang pada detik-detik saat melahirkan Kania. Masih sangat segar dalam memori. Sekitar 1,5 minggu sebelum Kania lahir dokter kandungan bilang bahwa plasenta saya mengalami pengapuran namun masih cukup berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen janin seminggu kedepan. Being a first timer, saya langsung lemes saat dokter berkata demikian. Saya bisa melihat kekhawatiran yang sama pada suami saya, walaupun dia berhasil menutupinya. Dokter meredakan kekhawatiran kami dengan meminta kami datang lagi hari Senin yang akan datang. Dokter kami ini emang udah jago banget dibidangnya, dapat dilihat dari aura dan tindak tanduknya yang tenang bin santai; like he knows what he's doing. So kekhawatiran kami benar-benar agak mereda.

Hari Senin yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. H-2 lebaran. Saya dan suami berangkat dari rumah pagi-pagi sekali karena takut kehabisan nomor antrian. Maklum, waktu itu bulan puasa, jadi para pasien sudah mengirim suami/ ibu/ sodara lainnya untuk mengantri sejak ba'da subuh. Alhasil dua kali kami kehabisan nomor. Anyway, begitu sampai di rumah sakit bersalin ternyata kami sudah kehabisan normor. Jadi kami pulang dan kemudian balik lagi pukul 9.00. Kami langsung menuju ruang bidan dan menceritakan kondisi saya. Untungnya tidak lama kemudian saya diminta untuk masuk untuk rekam jantung janin. Setelah itu saya menunggu agak lama sampai dokter tiba untuk periksa dalam. Ternyata saya sudah bukaan dua dan harus observasi 6 jam. Enam jam berlalu, orang tua, sodara, dan mertua saya sudah berkumpul dan check in hotel namun ternyata bukaan tidak bertambah juga. Alhasil kami semua pulang kerumah, dan orang tua  serta saudara saya melanjutkan perjalanan ke Madura untuk berlebaran. Saya dan suami kebagian menempati hotel yang sudah terlanjur dibayar. Lumayan, itung-itung honeymoon lagi. 

Hari demi hari berlalu, tamu yang saya tunggu-tunggu ga nongol juga. Saat itu saya  ngerasa sedih karena teman yang HPL'nya sama udah melahirkan duluan. Saya ga sabar ingin bertemu makhluk kecil yang sudahh berbagi tubuh selama 9 bulan lebih. Berhubung kami tinggal di pinggir jalan raya lintas kota Solo-Semarang, maka si papa bilang pada Kania untuk jangan nongol dulu sampai antrian panjang para pemudik reda. Padahal waktu itu kontraksi sudah datang tiap 10 menit sekali, walaupun masih hilang muncul. Akhirnya hari Minggu tanggal 4 September pagi saya dan suami berangkat ke rumah sakit karena beberapa hari sebelumnya sudah muncul flek. Sesampainya di rumah sakit bersalin, saya melalui prosedur yang sama seperti minggu sebelumnya. Rekam jantung bayi dan periksa dalam. Ternyata sudah bukaan 3. Observasi 4 jam. Selama 4 jam itu kontraksi yang saya rasakan semakin sakit dan semakin pendek interval waktunya. Suami tercinta tidak saya perbolehkan untuk beranjak dari samping tempat tidur. Entah kenapa saya merasa kepanasan walaupun AC di kamar sudah menyala. Suami dengan bingung dan suka rela ngipasin dan ngelus-elus pinggang saya. Oh ya, waktu itu setiap beberapa kali jeda kontraksi saya muntah. Kata bidan mungkin karena ga kuat nahan sakitnya. Emang sakit banget!! Sampai-sampai saya jambak rambut suami, ga nyadar kalau ternyata ibu mertua ada di dekat kami.Hihihi

Jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk periksa lagi. Saya dan suami berjalan menuju ruang bidan sambil terhuyung-huyung kesakitan. Rekam jantung janin lagi, periksa bukaan lagi. Jantung si janin masih kuat dan ternyata masih bukaan 3 hampir ke 4. Waktu itu saya diberi opsi untuk pulang atau rangsang. Karena sudah tidak kuat dengan sakitnya, dan enggan bolak balik lagi saya memutuskan untuk rangsang. Jadilah si bidan memasukkan semacam pil kecil ke dalam privat saya. Lalu saya kembali ke kamar. Dorongan untuk muntah sudah agak lama hilang, namun keluhan lain muncul: sesak napas. Dua jam saya biarkan  sesak itu hingga akhirnya saya merasa tidak kuat lagi dan minta oksigen. Sebenernya sih kalau bisa oksigennya aja yang dibawa ke kamar, tapi ternyata ga bisa. Ya sudah, saya akhirnya kembali ke ruang bidan/ bersalin persis ketika adzan magrib selesai berkumandang.

Sejak saat itu saya tidak pernah keluar lagi dari ruang bersalin hingga Kania lahir. Lima setengah jam saya dan suami berjuang untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Suami saya dengan setia menemani saya di samping tempat tidur, salah satu tangannya tidak lepas dari kipas dan yang satu lagi tidak lepas dari pinggang saya. Lengan dan bajunya menjadi saksi bisu sekaligus victim dari peristiwa special itu. Setiap kontraksi datang saya pelintir bajunya, saya hujamkan kuku saya ke lengannya. Telinganya jadi pendengar yang baik dari ocehan dan omelan saya; bahkan juga harus menyaksikan saat saya memarahi bidan yang membantu dan pasien lain yang benar-benar tidak ada sangkut pautnya. Oh ya, beberapa kali saya berucap menyerah dan ingin melahirkan C-sect saja. Suami saya sudah pasrah dan menyerahkan opsi itu sepenuhnya pada saya; mungkin karena sudah ga kuat ngeliat saya kesakitan selama berjam-jam. Namun para bidan terus menyemangati, dan beberapa saat setelah itu entah dari mana saya menemukan kepercayaan dan keyakinan diri bahwa saya pasti mampu melahirkan normal. Terlihat raut lega di wajah suami saya yang semakin membuat saya semangat.

Bukaan saya termasuk lama, karena saya ingat bidan beberapa kali menyuntikkan cairan induksi via infus atas perintah dokter. Ketubanpun ga pecah-pecah sampai akhirnya dokter memerintahkan untuk memecahkannya saja. Ternyata cairan ketuban saya sudah hijau. Langsung saja bidan menyuntikkan cairan induksi lagi sesaat setelah konsultasi dengan dokter. Tak terkira bersyukurnya bahwa saya memutuskan untuk induksi saja hari itu. Saya juga bersyukur setiap janin direkam jantung detaknya sangat kuat, dan saya masih bisa merasakan tendangan-tendangan kuatnya bahkan saat sudah bukaan ke 7 atau 8! Kata bidan biasanya di atas bukaan 6 gerakan janin sudah mulai melemah karena fokus untuk keluar. Namun tidak bagi Kaniaku. Dia masih bisa berbagi konsentrasi antara lahir dan nendang-nendang. Hebat!

Dan akhirnya tepat pukul 23.30 bayi saya lahir. Tidak terkira betapa leganya. Namun ternyata saya dan suami belum boleh benar-benar lega karena bayi kami tidak langsung menangis. Para bidan kemudian sibuk memasukkan selang ke hidung dan mulut Kania. Alhamdulillah setelah semua cairan keluar, dia bisa menangis. Keras. Persis seperti bayangan saya sebelumnya. 

Setelah itu bidan menyerahkan Kania pada saya untuk Inisiasi Menyusui Dini. Sesuatu yang sudah  lama saya putuskan secara keukeuh untuk wajib harus saya jalani. Selama IMD, saya tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa kecil, kadang menangis ringan penuh takjub. Ada bayi manusia yang ngendon di rahim dan keluar melalui saya. Berulang kali saya berucap I love you pada Kania kecil, dan menggumam betapa kecil dan cantiknya dia. Pengalaman yang luar biasa. Rasa bahagia juga membuncah saat Kania berhasil menemukan puting saya dan berhasil menyusu untuk pertama kali. Anak pintar. Kemudian bidan datang meminta si kecil untuk dibersihkan. Namun saya merasa belum puas bermesraan dengan bayi saya, jadi saya minta waktu untuk skin-to-skin contact lebih lama. Total sekitar hampir 45 menit saya skin-to-skin contact dengan Kania, dan Kania berhasil menemukan puting saya di sekitar menit ke 30. Benar-benar menakjubkan.
Saat IMD

Terimakasih untuk dedek bayi yang baru lahir kemarin, telah mengingatkan saya pada proses 5,5 jam di ruang bersalin yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Terimakasih pada Kania yang begitu hebat telah datang menyemarakkan kehidupan papa-bundanya. Terimakasih pada Tuhan SWT yang memberi saya kesempatan untuk menjadi bagian dari keajaiban penciptaan. Alhamdulillah.

New Look

Hey guys! Setelah beberapa jam ngutak-atik blog ini, saya persembahkan pada kawan-kawan sekalian tampilan baru untuk blog saya! I love it, and I hope you enjoy it. This new look reflects me more articulately, so to make you get the feel of what I'm like. Read on guys!

Sexy Woman

Heey ho! Sudah agak lama yah saya ga menyapa blogger sekalian. Minggu lalu saya holiday kecil di tempat mertua di Boyolali. Berhubung modem sudah habis pulsanya dan tidak kami isi ulang, jadi saya tidak terkoneksi. Anyhoo, di sana saya bermasak-masak ria. Hobi yang sudah lama saya idealkan sebagai seorang perempuan, namun baru akhir-akhir ini saya praktekkan secara nyata; tepatnya sejak saya menikah. Dari dulu saya selalu merasa sexy ketika sedang memasak, sesepele apapun masakan yang saya buat. Apalagi jika memasak untuk suami, terbayang ga betapa sexy perasaan saya?! Baik, lanjuuut.

Masakan pertama saya untuk suami adalah beef blackpepper (ga ada ilustrasi, karena begitu jadi langsung disantap oleh suami). Cukup sukses lah waktu itu. Masih teringat jelas kami berdua menyantapnya secara lesehan di depan TV, semeja kecil berdua (romantis masa kini udah bukan sepiring berdua lagi, tapi semeja kecil berdua :p ). Masakan kedua yang saya buat adalah salmon asam manis yang alhamdulillah juga sukses. Resepnya saya ambil dari masakan asam manis, dagingnya diganti dengan daging ikan salmon karena waktu itu saya sedang hamil, jadi suami getol banget dengan segala yang berbau salmon. Alhasil saya buatkan kami berdua salmon asam manis.

Salmon asam manis a la Dina 

Naaah setelah berbulan-bulan ga masak, maklum kami masih tinggal dengan orang tua saya, akhirnya saya memasak lagi! Saya memasak suki, yang menurut saya agak gagal. Sukiyaki adalah irisan tipis daging sapi, sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan telur ayam. Lhah saya menggunakan wajan untuk memasaknya, dan ga pake sayuran atau dicelupin ke kocokan telur ayam; maka dari itu saya kasih nama suki yang saya masak itu "semur Jepang". Tapi sayangnya ga ada jejak dokumentasi dari masakan semur Jepang saya. Lain kali yaa kalo saya masak, saya fotoin deh.

Setelah selesai makan semur Jepang buatan saya, dengan hati meluap-luap saya lanjutkan perjalanan memasak hari itu dengan menyiapkan isi untuk lumpia yang rencananya akan kami santap sambil nonton The Tourist di TV cable. Saya sampai agak nyuekin Kania hari itu karena terlalu bersemangat masak; jadi Kania diambil alih oleh papa dan utinya. Thanks guys :x. Lagi-lagi saya lupa mendokumentasikan masakan lumpia saya, tapi bentuknya masih sewajarnya lumpia kok. Kebayang kan? Okee... Lanjoot. Lumpia itu juga menuai kesuksesan. Belum juga film dimulai lumpianya sudah 1/4 ludes. Saya seorang perempuan yang sepertinya didominasi indera pendengaran, jadi untuk saya pribadi indikator kesuksesan lumpia buatan saya adalah ketika suami dan mertua bilang lumpianya enak! Hari berikutnya ibu mertua saya tiba-tiba bilang bahwa masakan saya enak, padahal jarang masak; dan suami menyemangati saya untuk lebih sering masak. Hati saya berbunga-bungan dan wajah saya pasti ga karuan karena tersipu gimana gitu!

Itu cerita seru dari minggu lalu, my little holiday dan masak-masak seru saya! Alhamdulillah sukses berat ;p dengan demikian saya boleh bangga dan merasa sexy sekali!!

Wednesday, January 18, 2012

Ma Princesse

Sudah hampir 5 bulan ini saya memasuki fase hidup yang baru: motherhood. Tak terkira betapa banyak tawa, senyum, air mata, dan peluh yang tercurah selama 4,5 bulan yang mengesankan ini. Namanya Kania Larasati Endriyanto. Makhluk kecil yang menyebabkan sakit luar biasa pada detik-detik jelang kelahirannya; namun secara kontradiktif juga memberi rasa bahagia yang tak kalah luar biasanya saat ia sudah hadir ke dunia. Rasanya masih segar dalam ingatan saat pertama kali bidan pembantu menyerahkan si kecil padaku untuk IMD. Hanya ada rasa bahagia saja saat itu. Aku dan suamiku tersedot dalam pusaran waktu kekinian. Rasa sakit yang kurasakan selama berjam-jam sebelumnya, dan bahkan rasa mak clekit saat dokter menjahitku sama sekali tak terasa. Sungguh indah. Alhamdulillah Tuhan SWT sudah mempercayaiku dan suamiku untuk menjadi sarana bagi Kania lahir ke dunia ini.

Kania saat pulang dari RSB, 3 days old

Saya belajar banyak hal hari demi hari menjalani waktu bersama dengan Kania. Saya belajar tentang diri sendiri, tentang bagaimana diri saya ini. Saya belajar mengenai berbagi, dalam hal ini berbagi waktu. Kadang rasanya sulit sekali berbagi waktu dengan bayiku, maksud saya saat saya sedang "me time" dan tiba-tiba bayi saya menangis atau apapun. Pada saat itu kadang saya merasa agak kesal, namun di situ muncul kesempatan bagi saya untuk belajar tentang ikhlas. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel "Negeri Lima Menara", saya acapkali berdoa dan berucap "saya ikhlas" untuk mengikhlaskan hati dan diri saya sepenuhnya saat harus berbagi waktu dengan anak saya. Semua saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang perhatian bagi anaknya, karena sejujurnya sampai saat ini saya masih harus belajar banyak untuk menjadi pribadi yang perhatian. Terkadang  egoisme atau carelessness masih suka hinggap dalam diri saya. 

Hal lain yang saya pelajari selama 4,5 bulan interaksi saya dengan bayi saya adalah kesabaran. Saya adalah pribadi yang secara emosi reaktif. Begitu ada stimulus langsung saya respon, baik secara psikologis atau secara fisik, sampai-sampai acapkali tidak ada ruang untuk menarik nafas agar dapat memberi logika kesempatan. Dengan adanya Kania dalam hidup saya, saya belajar untuk menarik nafas sebentar untuk memperbaiki respon otomatis saya, entah itu merasa sedih, jengkel, marah atau apapun. Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya rasakan pasti akan ter-transfer kepada bayi saya, sehingga saya sedikit demi sedikit belajar untuk memberi ruang supaya urat kesabaran saya sedikit lebih panjang. Perjalanan sehidup semati ini memberi saya peluang belajar yang teramat banyak. 


 Seolah tiada bosannya ia mengajari saya, hari ini Kania melakukan sesuatu yang khas anak-anak dan membuat saya tertegun. Saat itu saya sedang bermain dengannya, dan tiba-tiba ia menangis terusik oleh papanya yang menghujaninya dengan ciuman gemas. Tangisan itu berhenti seketika saat saya menyanyikan salah satu lagu kesukaannya, twinkle twinkle little star. Apa yang telah ia ajarkan pada saya? Suatu filosofi hidup yang dalam. Dari dulu saya yakin bahwa anak-anak atau bayi sekalipun adalah guru yang luar biasa bagi siapa saja yang berhenti sejenak dan mengosongkan diri. Sehingga saya sangat bersyukur memiliki guru kecil milik saya sendiri. 

Anak-anak pandai sekali dalam hal living in the moment. Inilah yang Kania ajarkan pada saya hari ini. To live in the moment. Sesuatu yang sudah tidak asing bagi saya, suatu cerita lama, namun sampai detik ini saya masih terseok-seok untuk mempraktekkannya. Kania yang langsung ceria segera setelah ia menangis, mengajarkan pada saya bahwa jika kita hidup pada kekinian maka luka-luka batin dan kemarahan di masa lalu tidaklah penting. Semua itu sudah tidak ada; yang ada hanyalah stimulus yang mendatangi saya saat ini.  Stimulus dan respon yang saya berikan saat ini pun pada akhirnya akan berlalu. Gone. Raib. Diganti dengan kekinian yang lain. Hebat! Bayi saya sangat pandai dalam mengosongkan diri! Dia juga sangat pandai dalam menjadi sarana bagi Tuhan SWT mengajari saya banyak hal.
Perjalanan saya dengan anak saya merupakan proses belajar tiada henti untuk anak saya dan terutama untuk saya. Saya masih ingat betapa excited'nya saya saat menanti kelahiran bayi saya; I was very much looking forward to the lessons that she brings for me and her dad. Ternyata banyak pelajaran yang guru kecil ini berikan pada kedua orang tuanya. And I feel blessed. Terima kasih guru kecilku. Mommy always loves you.

Kania saat lagi diisengin bundanya, last month


Monday, January 16, 2012

Tesis yang Diduakan

Wow! Tak terasa sudah seharian penuh saya mantengin layar laptop gara-gara keasyikan berbenah blog baru saya. Seneng rasanya bisa melakukan banyak hal di blog ini. Semoga blog ini bisa terus terisi oleh gores-gores kata dari saya. Amin.

Saya kagum dengan kemampuan saya mendekam di depan laptop seharian ini. Sungguh tak terasa lelah, berat, ataupun bosan. Sesuatu yang baru ini sungguh membuat saya tertarik bukan main. Mungkin itulah yang dinamakan semangat mengerjakan sesuatu karena kita suka. Hasilnya maksimal, dan mungkin saja sampai batas hampir bisa dieksploitasi hehe.. Maksud saya se-lama apapun waktu yang kita gunakan untuk mengerjakan hal tersebut kita tidak akan merasa berat sama sekali. Kita menjadi aliran, mengalir dalam kekinian aktivitas yang sedang kita lakukan. Itu ada teorinya lho, namanya The Flow Theory dari Mihaly Csikszenmihalyi (dibaca ciksenmihai, what a mouthful!). Beliau adalah dosen psikologi berasal dari Hungaria, namun telah lama bermigrasi ke US. Let's cut the chase, so how does it feel to be in the "flow"? Berikut gambarannya:
  1. Completely involved, focused, concentrating - with this either due to innate curiosity or as the result of training
  2. Sense of ecstasy - of being outside everyday reality
  3. Great inner clarity - knowing what needs to be done and how well it is going
  4. Knowing the activity is doable - that the skills are adequate, and neither anxious or bored
  5. Sense of serenity - no worries about self, feeling of growing beyond the boundaries of ego - afterwards feeling of transcending ego in ways not thought possible
  6. Timeliness - thoroughly focused on present, don't notice time passing
  7. Intrinsic motivation - whatever produces "flow" becomes its own reward
 sumber dari http://austega.com/gifted/articles/flow.htm

Jadi intinya seperti yang sudah saya sedikit singgung di atas: pemusatan perhatian pada sesuatu aktivitas hingga lupa waktu yang pada saat bersamaan menimbulkan perasaan senang karena kita berada pada kekinian; lupa akan segala sesuatu di luar aktivitas yang sedang kita lakukan itu. Ada satu hal yang agaknya ingin sekali bisa saya lakukan hingga mencapai the flow itu tadi, yaitu thesis S2 saya. Entah mengapa saya merasa agak kesulitan untuk mengajak diri saya bekerja sama dalam mengumpulkan semangat untuk mengerjakannya. Padahal sungguh saya sudah sangat ingin menyelesaikannya. Hanya saja tidak cukup besar hingga membuat saya bertindak sedikit lebih jauh. Selama ini saya hanya berpatokan bahwa saya pasti selesai, dan tidak pernah terlalu mengkhawatirkan prosesnya. Padahal proses yang saya lalui sampai dengan tesis tersebut selesai adalah yang paling penting. Saya selalu yakin bahwa Tuhan pasti memberi jalan, namun saya tidak pernah berusaha dengan sedikit lebih keras untuk membantu Tuhan membuka jalan itu.

Saya sangat terinsipirasi oleh novel karya A Fuadi yang berjudul "Negeri Lima Menara". Di situ disinggung soal slogan para santri yaitu man jadda wa jada. Saya sungguh terkesima dengan slogan itu; siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Konon, slogan itu merupakan mantra sakti mandraguna bagi para santri di novel tersebut. Benar, mantra tersebut memang sakti karena saya pun terkena imbasnya. Setelah benar-benar menghayati sepenggal ungkapan berbahasa Arab tersebut saya jadi merenung dan mengaplikasikannya pada kehidupan saya, terutama yang bagian tesis. Waktu itu semangat tersebut begitu besar, saya berapi-api hingga siap sedia untuk meluangkan waktu mencari jurnal; sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan untuk memulai tesis saya. Sampai detik ini saya masih bersemangat, namun entah kenapa sudah mulai kendur. Padahal ada target yang harus saya capai, yaitu lulus semester ini. Yah, semoga tulisan ini menjadi refleksi dan sekaligus cambuk bagi saya untuk terus bersemangat mengerjakan tesis tercinta yang telah lama ku duakan. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. I welcome the flow to come to me #2012wishlist (waks hehe)!

Tesis, tunggu aku. Aku datang menjemputmu.

Sunday, January 15, 2012

A Calling

Yak, ini adalah blog ke-4 saya. Tak terasa sudah empat kali saya membuat blog, gara-gara lupa dengan password atau ID. Tak apa, yang penting masih bisa menyalurkan hobi menulis yang akhir-akhir ini sering kali tidak disalurkan. Banyak yang spinning in my head, dan seringkali banyaknya hal yang berlarian di pikiran saya membuat saya merasa tersiksa sendiri. Pikiran-pikiran tersebut berlari memutar seperti pintalan bola benang yang harus diurai sedikit demi sedikit agar bisa ketemu ujungnya. Menulis telah lama menjadi terapi untuk saya namun sayangnya belakangan ini tidak pernah berani saya lakukan karena seringkali setiap akan menulis ada rasa takut yang hinggap. Rasa takut untuk memulai karena terlalu memikirkan bahasa, sehingga akhirnya pemikiran atau ide atau keluh kesah apapun yang ada di benak tidak bisa mengalir keluar. Semoga saja rasa takut itu sedikit demi sedikit bisa terkikis dengan blog baru ini. I welcome bravery. I welcome strength into my life, even if it's only to write down my ideas, thoughts, or feelings.

Ada sesuatu yang ingin kuceritakan tentang hari ini. Sesuatu yang membuat hatiku berdesir, degup jantungku berlarian seperti anak kecil bermain kejar-kejaran. Ya.Sesuatu itu adalah tentang mengajar. Sudah lama aku merasa sangat senang mengajar, tapi ada kalanya - seringkali - aku menyangkalnya. Siang tadi aku membaca tweet dari seorang guru yang menyatakan bahwa kreativitas seorang anak mati begitu ia menginjak pendidikan SD. Saya kurang lebih setuju dengan pernyataan itu. Teringat kembali masa-masa SD dulu, harus masuk kelas pukul 6.45 pagi, pulang hampir pukul 3 sore. Sungguh melelahkan, padahal yang kami lakukan "hanya" duduk dan mendengarkan guru, tangan sedekap ya anak-anak. Berangkat dari tweet itu, aku jadi terlintas beberapa cara yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu mengajarku jika aku jadi dosen. Mungkin ini ya yang namanya bisikan hati. Aku sering sekali menyangkal keinginan untuk mengajar karena tidak yakin akan kemampuanku namun terlalu banyak orang menyarankan supaya aku menjadi pengajar. Aku tidak suka, aku ingin ketika aku memutuskan sesuatu asalnya dari hati dan pikiranku sendiri. Saat ini, detik ini saja aku masih menyangkal ide untuk menjadi pengajar walaupun aku tahu betapa berapi-apinya hatiku dan perasaanku saat membayangkan apa saja yang bisa kulakukan untuk anak didikku. Tapi satu hal yang aku yakin adalah my calling, apapun itu pasti akan menemukan jalannya untuk menggugahku. Maybe not now.

Sudah lama aku yakin dengan pendidikan. I believe in education. I have a passion to share knowledge, to teach. Tadi siang aku membaca buku karya tetanggaku yang seorang guru SMA. Sebuah bunga rampai indah tentang dunia sekolah dan khususnya guru. Aku begitu tergugah saat ia bilang bahwa hitam putihnya pengalaman seorang siswa di sekolah ada di tangan guru. Yes, I very much agree. Bahkan menurutku hitam putihnya sebuah bangsa salah satunya ada di tangan para pendidik. Tidak memungkiri bahwa peran utama tentu ada pada orang tua, namun sekolah adalah rumah kedua bagi seorang pelajar. Sekolah adalah rumah kedua bagi pondasi masa depan bangsa, para calon pemimpin masa depan. Orang tua mereka di sana adalah guru. Betapa mulianya seorang guru, betapa besar tanggung jawab yang mereka emban. Mereka adalah ujung tombak dari pembukaan UUD 1945 yang bagian mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru, janganlah mematikan kreativitas anak dengan gaya mengajarmu yang kaku. Jangan buat mereka bungkam karena wajah dinginmu saat mengajar mata pelajaran yang susahnya kau banggakan. Guru, sentuhlah mereka dengan cinta. Sentuhlah dirimu dengan cinta.

Aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi bagian dari dunia yang mulia itu. Aku ingin menyentuh sebanyak mungkin pribadi, agar mereka terinspirasi menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, bagi lingkungannya, dan bagi alam raya. Inspirasi bagaikan ombak yang saling kejar-kejaran, sebuah cycle yang tidak akan putus kecuali kita sendiri memutuskan untuk memutusnya.