Kemarin pagi saya mendapat kabar kalau kakak sepupu melahirkan anak keduanya. Alhamdulillah. Anak laki-laki lagi, sesuai keinginan bapaknya! Bayinya sehat, lucu banget, nyempluk kayak bakpao dengan berat badan 4kg panjang 50cm. Saya kira ga ada yang nandingin pipi tembemnya Kania, tapi dengan lahirnya dedek bayi yang belum bernama itu maka secara resmi pipi Kania terkalahkan.
Sore harinya kami sekeluarga berkunjung menjenguk the little precious. Saat duduk berbincang dengan kakak, ingatan saya tiba-tiba melayang pada detik-detik saat melahirkan Kania. Masih sangat segar dalam memori. Sekitar 1,5 minggu sebelum Kania lahir dokter kandungan bilang bahwa plasenta saya mengalami pengapuran namun masih cukup berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen janin seminggu kedepan. Being a first timer, saya langsung lemes saat dokter berkata demikian. Saya bisa melihat kekhawatiran yang sama pada suami saya, walaupun dia berhasil menutupinya. Dokter meredakan kekhawatiran kami dengan meminta kami datang lagi hari Senin yang akan datang. Dokter kami ini emang udah jago banget dibidangnya, dapat dilihat dari aura dan tindak tanduknya yang tenang bin santai; like he knows what he's doing. So kekhawatiran kami benar-benar agak mereda.
Hari Senin yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. H-2 lebaran. Saya dan suami berangkat dari rumah pagi-pagi sekali karena takut kehabisan nomor antrian. Maklum, waktu itu bulan puasa, jadi para pasien sudah mengirim suami/ ibu/ sodara lainnya untuk mengantri sejak ba'da subuh. Alhasil dua kali kami kehabisan nomor. Anyway, begitu sampai di rumah sakit bersalin ternyata kami sudah kehabisan normor. Jadi kami pulang dan kemudian balik lagi pukul 9.00. Kami langsung menuju ruang bidan dan menceritakan kondisi saya. Untungnya tidak lama kemudian saya diminta untuk masuk untuk rekam jantung janin. Setelah itu saya menunggu agak lama sampai dokter tiba untuk periksa dalam. Ternyata saya sudah bukaan dua dan harus observasi 6 jam. Enam jam berlalu, orang tua, sodara, dan mertua saya sudah berkumpul dan check in hotel namun ternyata bukaan tidak bertambah juga. Alhasil kami semua pulang kerumah, dan orang tua serta saudara saya melanjutkan perjalanan ke Madura untuk berlebaran. Saya dan suami kebagian menempati hotel yang sudah terlanjur dibayar. Lumayan, itung-itung honeymoon lagi.
Hari demi hari berlalu, tamu yang saya tunggu-tunggu ga nongol juga. Saat itu saya ngerasa sedih karena teman yang HPL'nya sama udah melahirkan duluan. Saya ga sabar ingin bertemu makhluk kecil yang sudahh berbagi tubuh selama 9 bulan lebih. Berhubung kami tinggal di pinggir jalan raya lintas kota Solo-Semarang, maka si papa bilang pada Kania untuk jangan nongol dulu sampai antrian panjang para pemudik reda. Padahal waktu itu kontraksi sudah datang tiap 10 menit sekali, walaupun masih hilang muncul. Akhirnya hari Minggu tanggal 4 September pagi saya dan suami berangkat ke rumah sakit karena beberapa hari sebelumnya sudah muncul flek. Sesampainya di rumah sakit bersalin, saya melalui prosedur yang sama seperti minggu sebelumnya. Rekam jantung bayi dan periksa dalam. Ternyata sudah bukaan 3. Observasi 4 jam. Selama 4 jam itu kontraksi yang saya rasakan semakin sakit dan semakin pendek interval waktunya. Suami tercinta tidak saya perbolehkan untuk beranjak dari samping tempat tidur. Entah kenapa saya merasa kepanasan walaupun AC di kamar sudah menyala. Suami dengan bingung dan suka rela ngipasin dan ngelus-elus pinggang saya. Oh ya, waktu itu setiap beberapa kali jeda kontraksi saya muntah. Kata bidan mungkin karena ga kuat nahan sakitnya. Emang sakit banget!! Sampai-sampai saya jambak rambut suami, ga nyadar kalau ternyata ibu mertua ada di dekat kami.Hihihi
Jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk periksa lagi. Saya dan suami berjalan menuju ruang bidan sambil terhuyung-huyung kesakitan. Rekam jantung janin lagi, periksa bukaan lagi. Jantung si janin masih kuat dan ternyata masih bukaan 3 hampir ke 4. Waktu itu saya diberi opsi untuk pulang atau rangsang. Karena sudah tidak kuat dengan sakitnya, dan enggan bolak balik lagi saya memutuskan untuk rangsang. Jadilah si bidan memasukkan semacam pil kecil ke dalam privat saya. Lalu saya kembali ke kamar. Dorongan untuk muntah sudah agak lama hilang, namun keluhan lain muncul: sesak napas. Dua jam saya biarkan sesak itu hingga akhirnya saya merasa tidak kuat lagi dan minta oksigen. Sebenernya sih kalau bisa oksigennya aja yang dibawa ke kamar, tapi ternyata ga bisa. Ya sudah, saya akhirnya kembali ke ruang bidan/ bersalin persis ketika adzan magrib selesai berkumandang.
Sejak saat itu saya tidak pernah keluar lagi dari ruang bersalin hingga Kania lahir. Lima setengah jam saya dan suami berjuang untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Suami saya dengan setia menemani saya di samping tempat tidur, salah satu tangannya tidak lepas dari kipas dan yang satu lagi tidak lepas dari pinggang saya. Lengan dan bajunya menjadi saksi bisu sekaligus victim dari peristiwa special itu. Setiap kontraksi datang saya pelintir bajunya, saya hujamkan kuku saya ke lengannya. Telinganya jadi pendengar yang baik dari ocehan dan omelan saya; bahkan juga harus menyaksikan saat saya memarahi bidan yang membantu dan pasien lain yang benar-benar tidak ada sangkut pautnya. Oh ya, beberapa kali saya berucap menyerah dan ingin melahirkan C-sect saja. Suami saya sudah pasrah dan menyerahkan opsi itu sepenuhnya pada saya; mungkin karena sudah ga kuat ngeliat saya kesakitan selama berjam-jam. Namun para bidan terus menyemangati, dan beberapa saat setelah itu entah dari mana saya menemukan kepercayaan dan keyakinan diri bahwa saya pasti mampu melahirkan normal. Terlihat raut lega di wajah suami saya yang semakin membuat saya semangat.
Bukaan saya termasuk lama, karena saya ingat bidan beberapa kali menyuntikkan cairan induksi via infus atas perintah dokter. Ketubanpun ga pecah-pecah sampai akhirnya dokter memerintahkan untuk memecahkannya saja. Ternyata cairan ketuban saya sudah hijau. Langsung saja bidan menyuntikkan cairan induksi lagi sesaat setelah konsultasi dengan dokter. Tak terkira bersyukurnya bahwa saya memutuskan untuk induksi saja hari itu. Saya juga bersyukur setiap janin direkam jantung detaknya sangat kuat, dan saya masih bisa merasakan tendangan-tendangan kuatnya bahkan saat sudah bukaan ke 7 atau 8! Kata bidan biasanya di atas bukaan 6 gerakan janin sudah mulai melemah karena fokus untuk keluar. Namun tidak bagi Kaniaku. Dia masih bisa berbagi konsentrasi antara lahir dan nendang-nendang. Hebat!
Dan akhirnya tepat pukul 23.30 bayi saya lahir. Tidak terkira betapa leganya. Namun ternyata saya dan suami belum boleh benar-benar lega karena bayi kami tidak langsung menangis. Para bidan kemudian sibuk memasukkan selang ke hidung dan mulut Kania. Alhamdulillah setelah semua cairan keluar, dia bisa menangis. Keras. Persis seperti bayangan saya sebelumnya.
Setelah itu bidan menyerahkan Kania pada saya untuk Inisiasi Menyusui Dini. Sesuatu yang sudah lama saya putuskan secara keukeuh untuk wajib harus saya jalani. Selama IMD, saya tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa kecil, kadang menangis ringan penuh takjub. Ada bayi manusia yang ngendon di rahim dan keluar melalui saya. Berulang kali saya berucap I love you pada Kania kecil, dan menggumam betapa kecil dan cantiknya dia. Pengalaman yang luar biasa. Rasa bahagia juga membuncah saat Kania berhasil menemukan puting saya dan berhasil menyusu untuk pertama kali. Anak pintar. Kemudian bidan datang meminta si kecil untuk dibersihkan. Namun saya merasa belum puas bermesraan dengan bayi saya, jadi saya minta waktu untuk skin-to-skin contact lebih lama. Total sekitar hampir 45 menit saya skin-to-skin contact dengan Kania, dan Kania berhasil menemukan puting saya di sekitar menit ke 30. Benar-benar menakjubkan.
Terimakasih untuk dedek bayi yang baru lahir kemarin, telah mengingatkan saya pada proses 5,5 jam di ruang bersalin yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Terimakasih pada Kania yang begitu hebat telah datang menyemarakkan kehidupan papa-bundanya. Terimakasih pada Tuhan SWT yang memberi saya kesempatan untuk menjadi bagian dari keajaiban penciptaan. Alhamdulillah.



