Sudah hampir 5 bulan ini saya memasuki fase hidup yang baru: motherhood. Tak terkira betapa banyak tawa, senyum, air mata, dan peluh yang tercurah selama 4,5 bulan yang mengesankan ini. Namanya Kania Larasati Endriyanto. Makhluk kecil yang menyebabkan sakit luar biasa pada detik-detik jelang kelahirannya; namun secara kontradiktif juga memberi rasa bahagia yang tak kalah luar biasanya saat ia sudah hadir ke dunia. Rasanya masih segar dalam ingatan saat pertama kali bidan pembantu menyerahkan si kecil padaku untuk IMD. Hanya ada rasa bahagia saja saat itu. Aku dan suamiku tersedot dalam pusaran waktu kekinian. Rasa sakit yang kurasakan selama berjam-jam sebelumnya, dan bahkan rasa mak clekit saat dokter menjahitku sama sekali tak terasa. Sungguh indah. Alhamdulillah Tuhan SWT sudah mempercayaiku dan suamiku untuk menjadi sarana bagi Kania lahir ke dunia ini.
![]() |
| Kania saat pulang dari RSB, 3 days old |
Saya belajar banyak hal hari demi hari menjalani waktu bersama dengan Kania. Saya belajar tentang diri sendiri, tentang bagaimana diri saya ini. Saya belajar mengenai berbagi, dalam hal ini berbagi waktu. Kadang rasanya sulit sekali berbagi waktu dengan bayiku, maksud saya saat saya sedang "me time" dan tiba-tiba bayi saya menangis atau apapun. Pada saat itu kadang saya merasa agak kesal, namun di situ muncul kesempatan bagi saya untuk belajar tentang ikhlas. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel "Negeri Lima Menara", saya acapkali berdoa dan berucap "saya ikhlas" untuk mengikhlaskan hati dan diri saya sepenuhnya saat harus berbagi waktu dengan anak saya. Semua saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang perhatian bagi anaknya, karena sejujurnya sampai saat ini saya masih harus belajar banyak untuk menjadi pribadi yang perhatian. Terkadang egoisme atau carelessness masih suka hinggap dalam diri saya.
Hal lain yang saya pelajari selama 4,5 bulan interaksi saya dengan bayi saya adalah kesabaran. Saya adalah pribadi yang secara emosi reaktif. Begitu ada stimulus langsung saya respon, baik secara psikologis atau secara fisik, sampai-sampai acapkali tidak ada ruang untuk menarik nafas agar dapat memberi logika kesempatan. Dengan adanya Kania dalam hidup saya, saya belajar untuk menarik nafas sebentar untuk memperbaiki respon otomatis saya, entah itu merasa sedih, jengkel, marah atau apapun. Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya rasakan pasti akan ter-transfer kepada bayi saya, sehingga saya sedikit demi sedikit belajar untuk memberi ruang supaya urat kesabaran saya sedikit lebih panjang. Perjalanan sehidup semati ini memberi saya peluang belajar yang teramat banyak.
Seolah tiada bosannya ia mengajari saya, hari ini Kania melakukan sesuatu yang khas anak-anak dan membuat saya tertegun. Saat itu saya sedang bermain dengannya, dan tiba-tiba ia menangis terusik oleh papanya yang menghujaninya dengan ciuman gemas. Tangisan itu berhenti seketika saat saya menyanyikan salah satu lagu kesukaannya, twinkle twinkle little star. Apa yang telah ia ajarkan pada saya? Suatu filosofi hidup yang dalam. Dari dulu saya yakin bahwa anak-anak atau bayi sekalipun adalah guru yang luar biasa bagi siapa saja yang berhenti sejenak dan mengosongkan diri. Sehingga saya sangat bersyukur memiliki guru kecil milik saya sendiri.
Anak-anak pandai sekali dalam hal living in the moment. Inilah yang Kania ajarkan pada saya hari ini. To live in the moment. Sesuatu yang sudah tidak asing bagi saya, suatu cerita lama, namun sampai detik ini saya masih terseok-seok untuk mempraktekkannya. Kania yang langsung ceria segera setelah ia menangis, mengajarkan pada saya bahwa jika kita hidup pada kekinian maka luka-luka batin dan kemarahan di masa lalu tidaklah penting. Semua itu sudah tidak ada; yang ada hanyalah stimulus yang mendatangi saya saat ini. Stimulus dan respon yang saya berikan saat ini pun pada akhirnya akan berlalu. Gone. Raib. Diganti dengan kekinian yang lain. Hebat! Bayi saya sangat pandai dalam mengosongkan diri! Dia juga sangat pandai dalam menjadi sarana bagi Tuhan SWT mengajari saya banyak hal.
Perjalanan saya dengan anak saya merupakan proses belajar tiada henti untuk anak saya dan terutama untuk saya. Saya masih ingat betapa excited'nya saya saat menanti kelahiran bayi saya; I was very much looking forward to the lessons that she brings for me and her dad. Ternyata banyak pelajaran yang guru kecil ini berikan pada kedua orang tuanya. And I feel blessed. Terima kasih guru kecilku. Mommy always loves you.
![]() | ||
| Kania saat lagi diisengin bundanya, last month |


No comments:
Post a Comment