Yak, ini adalah blog ke-4 saya. Tak terasa sudah empat kali saya membuat blog, gara-gara lupa dengan password atau ID. Tak apa, yang penting masih bisa menyalurkan hobi menulis yang akhir-akhir ini sering kali tidak disalurkan. Banyak yang spinning in my head, dan seringkali banyaknya hal yang berlarian di pikiran saya membuat saya merasa tersiksa sendiri. Pikiran-pikiran tersebut berlari memutar seperti pintalan bola benang yang harus diurai sedikit demi sedikit agar bisa ketemu ujungnya. Menulis telah lama menjadi terapi untuk saya namun sayangnya belakangan ini tidak pernah berani saya lakukan karena seringkali setiap akan menulis ada rasa takut yang hinggap. Rasa takut untuk memulai karena terlalu memikirkan bahasa, sehingga akhirnya pemikiran atau ide atau keluh kesah apapun yang ada di benak tidak bisa mengalir keluar. Semoga saja rasa takut itu sedikit demi sedikit bisa terkikis dengan blog baru ini. I welcome bravery. I welcome strength into my life, even if it's only to write down my ideas, thoughts, or feelings.
Ada sesuatu yang ingin kuceritakan tentang hari ini. Sesuatu yang membuat hatiku berdesir, degup jantungku berlarian seperti anak kecil bermain kejar-kejaran. Ya.Sesuatu itu adalah tentang mengajar. Sudah lama aku merasa sangat senang mengajar, tapi ada kalanya - seringkali - aku menyangkalnya. Siang tadi aku membaca tweet dari seorang guru yang menyatakan bahwa kreativitas seorang anak mati begitu ia menginjak pendidikan SD. Saya kurang lebih setuju dengan pernyataan itu. Teringat kembali masa-masa SD dulu, harus masuk kelas pukul 6.45 pagi, pulang hampir pukul 3 sore. Sungguh melelahkan, padahal yang kami lakukan "hanya" duduk dan mendengarkan guru, tangan sedekap ya anak-anak. Berangkat dari tweet itu, aku jadi terlintas beberapa cara yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu mengajarku jika aku jadi dosen. Mungkin ini ya yang namanya bisikan hati. Aku sering sekali menyangkal keinginan untuk mengajar karena tidak yakin akan kemampuanku namun terlalu banyak orang menyarankan supaya aku menjadi pengajar. Aku tidak suka, aku ingin ketika aku memutuskan sesuatu asalnya dari hati dan pikiranku sendiri. Saat ini, detik ini saja aku masih menyangkal ide untuk menjadi pengajar walaupun aku tahu betapa berapi-apinya hatiku dan perasaanku saat membayangkan apa saja yang bisa kulakukan untuk anak didikku. Tapi satu hal yang aku yakin adalah my calling, apapun itu pasti akan menemukan jalannya untuk menggugahku. Maybe not now.
Sudah lama aku yakin dengan pendidikan. I believe in education. I have a passion to share knowledge, to teach. Tadi siang aku membaca buku karya tetanggaku yang seorang guru SMA. Sebuah bunga rampai indah tentang dunia sekolah dan khususnya guru. Aku begitu tergugah saat ia bilang bahwa hitam putihnya pengalaman seorang siswa di sekolah ada di tangan guru. Yes, I very much agree. Bahkan menurutku hitam putihnya sebuah bangsa salah satunya ada di tangan para pendidik. Tidak memungkiri bahwa peran utama tentu ada pada orang tua, namun sekolah adalah rumah kedua bagi seorang pelajar. Sekolah adalah rumah kedua bagi pondasi masa depan bangsa, para calon pemimpin masa depan. Orang tua mereka di sana adalah guru. Betapa mulianya seorang guru, betapa besar tanggung jawab yang mereka emban. Mereka adalah ujung tombak dari pembukaan UUD 1945 yang bagian mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru, janganlah mematikan kreativitas anak dengan gaya mengajarmu yang kaku. Jangan buat mereka bungkam karena wajah dinginmu saat mengajar mata pelajaran yang susahnya kau banggakan. Guru, sentuhlah mereka dengan cinta. Sentuhlah dirimu dengan cinta.
Aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi bagian dari dunia yang mulia itu. Aku ingin menyentuh sebanyak mungkin pribadi, agar mereka terinspirasi menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, bagi lingkungannya, dan bagi alam raya. Inspirasi bagaikan ombak yang saling kejar-kejaran, sebuah cycle yang tidak akan putus kecuali kita sendiri memutuskan untuk memutusnya.
True!
ReplyDeleteSekarang ini aku banyak melihat para guru/dosen yang melaksanakan kewajibannya untuk mengajar hanya karena tuntutan profesi. Karena memang itulah pekerjaan dan mata pencahariannya. Sebatas itu, titik.
Sangat sedikit diantara mereka yang pantas disebut sebagai pendidik sejati, mengabdikan hidupnya untuk kemajuan generasi muda, dan yang paling penting, yang mengajar karena panggilan hati.
Panggilan hati. Itu adalah hal kecil yang memberikan sejuta perbedaan.
Kelihatannya para guru/dosen itu melupakan satu hal: cinta.
Cinta pada tujuan mulia dan murid-muridnya. Cinta pada panggilan hatinya.
Itulah sebabnya aku lebih menghargai pekerjaan kecil, tapi dilakukan dengan passion. Karena semua pekerjaan itu mulia tergantung bagaimana kita menjalankannya. Semangat mereka-mereka itulah yang menginspirasi.
Like you said dear, inspiring others inspiring ourselves. Mereka itulah yang hidupnya penuh makna.
Aku suka tulisanmu jeng. Terus menulis ya, inspire me, hehe! :*