Sunday, May 6, 2012
Ulang Bulan 8
I still remember the days when you were still red. A gorgeous tiny baby. Love, how time has gone so fast. All those time I watched you grow beautifully into a smart, fun, and blessed little lady. Love, you should know, that your presence is so powerfully healing. You are our shortest immediate vacation. You bring big smile to everyone's face. You also evoke a warm tingling feeling in our heart. Thank you Love. I wish you a peaceful and joyous life. Amin
Monday, April 9, 2012
Bubur Tumpang Boyolali
Sudah dua minggu lalu saya ingin posting soal makanan ini, tapi baru hari ini ada kesempatan untuk nulis. So, here's the story! Dua minggu lalu saya dan keluarga kecil saya pergi ke rumah mertua, untuk monthly visit. Seperti kebiasaan selama ini, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat makan favorit. Tempatnya sederhana, sepetak lahan kosong yang diberi terpal untuk menutupi dari terik matahari, dan beberapa tempat duduk bambu bagi pelanggannya. Kadang ada beberapa ekor ayam berkeliaran, menyemarakkan suasana. Gadis kecil sayapun seringkali melonjak girang karenanya. Tempat ini hanya buka di pagi hari, dan jualan berakhir sebelum hari mulai siang. Pasti penasaran kan, itu lapak apa?? Ayo tebak, lapak apa yang buka pagi-pagi, menjual menu sarapan, dan berbangunan sederhana?! Adakah yang menebak lapak bubur? Yaaa!! Tempat itu adalah lapak mbok-mbok jualan bubur.
Lapak itu sederhana, menjual makanan sederhana, namun dapat memberi
kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana. Kenapa begitu? Pertama, karena
memang cita rasanya yang simply enak. Kedua, karena (ini nih, yang
ibu-ibu sukai) simply murah. hahaha jadi, berat di lidah, ringan di
dompet. Setiap habis bersantap di situ rasanya bersyukur atas kebahagiaan sederhana itu.
Isi buburnya ada sambel tumpang (khas Boyolali), mie goreng, dan serundeng. Biasanya ada gorengan untuk melengkapi sajian bubur itu. Bubur disajikan dalam pincuk, lumayan buat mboknya, jadi ga usah wira-wiri cuci piring. Kami biasa pesan dua bubur, dan gorengan 5 biji. Semuanya berapa bu? Tujuh ribu nduk. Dan saya pun menangis bahagia. Syukur untuk ibu penjual bubur yang mampu membangkitkan kebahagiaan sederhana dalam diri saya.
![]() |
| Ini dia bentuk buburnya |
Karena bahagia itu sederhana. Begitu.
Friday, April 6, 2012
Berpotong Rindu
Ceritakan padaku tentang malam. Kala rinai air basahi tubuh kita. Basuh jiwa kita.
Ceritakan padaku tentang malam. Dingin menusuk pori. Getarkan dada yang sepi.
Ceritakan padaku tentang malam. Air yang mengkondens jadi embu. Siap jatuh dipeluk tanah.
Ceritakan padaku tentang malam.
Tentang rinai, dingin, dan embun.
Tentang cerita berpotong rindu.
------
untuk rindu yang merindu
Monday, March 19, 2012
Listen, Love
Kemarin hari saya menemukan wajah mama saya cemberut ga enak saat tiba di rumah setelah pergi dengan adik laki-laki saya. Intuisi saya mengatakan ada sesuatu yang salah, mungkin ada kejadian yang membuat mama tidak berkenan. Ternyata benar. Begitu keluar dari mobil, mama langsung mengomel pada bapak saya sambil meneteskan air mata. "Bukan kejadiannya mas, tapi ke ga didengarnya itu sing aku ke Lara-Lara". Begitu kira-kira omelan mama saya begitu menginjakkan kakinya di pekarangan. Adik saya nyerempet buk jembatan.
Tak lama setelah itu saya pulang ke paviliun kecil saya untuk menghindar dari suasana tidak mengenakkan itu. Namun toh adik saya tetap saja memanggil saya untuk 'rapat' keluarga. Dalam rapat kecil-kecilan itu mama mengutarakan apa yang menjadi uneg2nya. Beliau mengatakan bahwa ada empat hal yang adik saya tidak mau lakukan. Sebenarnya kesemuanya itu adalah hal sepele, namun entah mengapa mama menganggapnya sebagai sesuatu yang besar. Mungkin karena beliau merasa tidak didengarkan oleh adik saya.
Jadi, waktu itu mereka pergi ke Bantul, ke rumah eyang. Adik saya berinisiatif untuk mengantar mama ke sana. Namun mama sebenarnya menolak diantar dengan alasan takut adik saya masih ngantuk, dan alasan kedua, adik saya masih dalam masa ujian sekolah. That's one thing. Kemudian sesampainya di sana mama minta pada adik untuk memarkir mobilnya di seberang jalan aja, karena jalan masuk ke rumah eyang sangat sempit. Namun adik saya memaksa untuk parkir di dekat rumah eyang. Ada dua hal lagi yang adik lakukan dan membuat mama tidak berkenan, tapi saya udah lupa. Jadi biarlah dua hal itu menjadi misteri. Karena intinya toh bukan di situ.
Nah, yang membuat saya berpikir adalah saat rapat itu, hanya mama saja yang mengungkapkan pikirannya. Adik saya sama sekali tidak diminta untuk memberi penjelasan atas tindakannya. Padahal jika adik saya bisa menjelaskan perilakunya, mungkin kesedihan mama tidak akan separah itu. Merasa tidak dituruti, tidak didengarkan. Itulah keluh kesah mama saya. Namun, jika kita mundur sejenak dan mengambil perspektif adik bisa saja ternyata maksudnya baik. Dalam pikiran saya, adik saya bersikeras mengantar mama pergi karena tidak tega membiarkan mamanya nyetir sendiri ke Bantul yang jauh walaupun beliau sudah sering melakukannya. Lalu saya kembali mencari alternatif alasan tentang kejadian yang kedua. Mungkinkah adik saya tidak ingin membuat mama jalan jauh membawa banyak barang dari rumah eyang sehingga Ia memutuskan untuk parkir mobil di dekat rumah saja. Jika kita melihat dari asumsi itu, maka sebenarnya perilaku yang dicap negatif dan dipersepsikan sebagai bentuk pembangkangan ternyata adalah bentuk cinta adik pada mama. Di sinilah letak pelajaran yang saya ambil. Bahwa jika kita mau berhenti sebentar dalam amarah dan kesedihan yang kita rasakan dan memberi orang lain kesempatan untuk menjelaskan dirinya, maka sebenarnya apa yang kita rasakan itu tidaklah perlu.
Seringkali saya mengalami kesedihan atau rasa marah yang penyebabnya adalah saya bermain dengan persepsi saya sendiri. Dan pemecahannya adalah dengan cross check langsung. Sesederhana itu. Namun seringkali pula saya tidak melakukannya. Hehehe.. Baru saja terlintas dalam pikiran, bahwa begitu banyak kejadian yang berlalu begitu saja dalam kesalahpahaman. Kesalahanpahaman yang dikarenakan oleh ketidaksudian kita memberi kesempatan orang lain berbicara. Ketidakmauan kita mendengar dan malah asyik dalam fantasi kita sendiri. Hal ini sering sekali terjadi pada saya, seperti yang sudah disinggung di atas. saya jadi merasa mendapat cermin untuk berkaca. bahwa dalam mendidik anak, saya ingin memberi dia kesempatan yang banyak untuknya menjelaskan diri. Bahwa dalam berinteraksi dengan suami pun juga demikian. Dengan orang-orang terdekat lainnya. Dengan orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Itu perlu. Karena kita tidak akan pernah tahu motivasi orang jika kita tidak bertanya. Kita tidak akan tahu cinta yang mereka utarakan lewat tindakan yang dalam persepsi kita justru sebaliknya. Maka dari itu.. Listen, Love. Coz you might just find Love. :)
Thursday, March 15, 2012
Welcome Home!
Sudah beberapa waktu ini saya bergabung dengan sebuah kelompok yang ingin belajar tentang, dan menjadi sufi. Suatu kelompok yang mengupas makna dibalik ritual, membuat kita merenungi tentang kehidupan, Tuhan, dan agama. Kelompok ini berisikan orang-orang yang lucu, beberapa dari mereka senang berdiskusi, beberapa lainnya senang bercanda, dan beberapa lainnya hanya menyimak dalam diam sambil kebingungan. The latter would be me. Guru kami adalah seorang laki-laki asal Solo, seseorang yang kesannya 'urakan' namun ada sesuatu padanya. Beliau selalu menebarkan senyum lebarnya, senyum yang membuat orang menunduk malu dan enggan, bahkan saat hanya melihatnya di foto.
Kemarin lusa ada exercise kecil yang membuat geger kelompok virtual itu. Kami diminta untuk mengenali diri dengan bercermin. Ada beberapa media yang dapat kita gunakan untuk bercermin: kaca cermin, air yang jernih tenang, dan pupil mata lawan bicara kita. Sebagian besar anggota kelompok kemudian sibuk menjajal eksperimen ini. Beberapa menemukan dirinya pada pantulan cermin. Benar-benar bertemu dengan 'seseorang' saat proses bercermin berlangsung. Ada juga yang hanya berputar-putar dalam pertanyaan demi pertanyaan. Pertanyaan universal: apakah yang kita cari? Beberapa orang lainnya hanya diam tidak berbagi tentang pengalamannya. Termasuk saya.
Saya memulai untuk bercermin dengan perasaan uneasy, antara bingung dengan apa yang dicari dan takut dengan apa yang kiranya akan saya temukan. Kemudian saya melihat saja pada cermin dengan hati dan pikiran kosong. Hanya mencoba menikmati proses ini dan membiarkan apa saja yang akan terjadi. Pertama saya melihat ke dalam pupil saya. Nothing there. Kemudian saya mengalihkan pandangan saya pada wajah saya. Saat itu saya melihat: wajah saya. Saya amati terus hingga akhirnya entah kenapa ada dorongan untuk tersenyum. Saya tersenyum pada diri saya sendiri. Sesaat setelah itu saya merasakan dorongan lain yaitu dorongan untuk memejamkan mata. Pada awalnya saya menolak untuk memejamkan mata, karena perintahnya adalah lihatlah ke dalam cermin. Kalo merem, mana bisa lihat ke dalam cermin? Begitu pikir saya berucap. Tapi kemudian pikiran lain muncul dan mengatakan apa salahnya mencoba, siapa tahu aku menemukan sesuatu. Lalu saya memejamkan kedua mata saya. Saat itu juga saya melihat dalam dada saya terdapat ruang yang berawan (atau berasap) putih dan lambat laun muncul asap berwarna pink jernih. Rasanya damai sekali di sana, seperti menemukan rumah yang lama hilang. Senyum saya semakin lebar. Pada waktu terbuai dalam rasa damai itu, saya merasa ada seseorang yang mengafirmasikan pada saya bahwa segala sesuatu baik-baik saja.
Pada tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung soal perjumpaan saya dengan hati saya. Nah, pikiran saya langsung melayang pada gadis kecil yang saya jumpai dalam hati saya, namun saya tidak menemukannya. Sepintas lalu saya melihat dalam pandangan perifer saya seorang wanita, seseorang yang keibuan. Dan dia memeluk saya dengan kata-katanya bahwa segala sesuatu baik-baik saja. Sepertinya saya masih mengumpulkan puzzle nih. Puzzle misteri tentang dua sosok itu. Saya tidak terburu-buru untuk mengumpukan keping demi keping, karena Dia tau yang terbaik bagi seluruh ciptaanNya. Saya menunggu.
Pikiran saya juga melayang pada ingatan tentang asap berwarna pink ini. Beberapa hari sebelumnya saya sering menjumpai asap berwarna pink ini dalam 'keheningan' saya. Warna pink yang menyelimuti diri saya. Saat saya meminta petunjuk pada guru, beliau hanya mengatakan bahwa saya punya bakat. Tapi saya masih bingung apa bakat yang dimaksudkan. Sampai saat ini saya masih belum mengerti bakat yang guru saya bicarakan. Hari ini saya kembali meminta petunjuk mengenai warna pink itu. Alhamdulillah, saya mendapat jawaban. Guru bilang untuk melanjutkan, dan bahwa warna pink adalah warna Cinta. So, seems like I'm on the right track. Track I do not know where it would lead me to. I am waiting in awe, waiting nearly anxiously of what more to come. Hopefully this is the beginning of something good.
Inti dari perjalanan ini adalah menunggu.. Menunggu sambil berserah, menyerahkan segalanya pada Dia Yang Maha Tahu.
Friday, March 2, 2012
Makan-makan
Hari ini Kania genap berumur 5 bulan 30 hari, dan itu artinya ia sudah bisa diberi makanan pendamping ASI. Horeeee..! Makan-makan. Sebagai seorang ibu muda dengan anak yang baru 1 orang, saya merasa deg-degan dengan peristiwa besar ini. Rasanya campur aduk menggetarkan. Rasa seru, khawatir, dan girang jadi gado-gado perasaan buat saya.
- Rasa seru karena sudah lama menantikan momen ini karena kasihan melihat Kania yang acap kali mengecap dan marah ketika orang-orang di sekitarnya pada makan.
- Khawatir akan BAB yang keras dan karena that's what moms do! Ha!
- Girang karena saya, suami, dan Kania bersama-sama berhasil lulus S1 ASI. Perjuangan yang cukup berat dan panjang, mengingat kami sempat memberi susu formula bayi pada 3-5 minggu pertama kelahiran buah hati kami. Tidak berhenti di situ orang tua kami seringkali menyarankan untuk memberi MPASI sebelum 6 bulan, dengan alasan kasihan karena Kania terkadang rewel, dan asumsi mereka adalah bayi kami tidak kenyang. That's that, we stood up for our child based on what we think is the best for Kania's interest (after a bit of research of course).
![]() |
| "Kania mau ini Bunda!" |
Makan-makan pertama Kania secara resmi sudah terlaksana, dan cukup berhasil. Dia mau makan sekitar 10-12 sendok tepung gasol cair sekali. Horeee! Untuk urusan makan ini, sang papa minta secara baik-baik pada saya untuk diberi kesempatan menyuapi paling ga sendokan pertama. Alasannya toh nanti yang akan sering menyuapi bundanya ato utinya. Suami saya memang sangat terlibat dalam pengasuhan Kania sejak ia masih bayi merah. Mas akan dengan senang hati membersihkan ompolnya, bahkan pupnya. Beberapa kali ia juga minta kesempatan untuk memandikan Kania, sampai dengan memakaikan bajunya. Suami dan bapak sempurna! ^.^ Dan makan pertama Kania pun tidak ingin dilewatkannya, dengan memberi 6-7 suapan pertama. And she loved it! Beberapa kali terlihat mengernyit aneh, tapi setelah itu lantas terkekeh-kekeh sendiri. Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Waiting for the next moment I can spoon feed her karena setelah ini pasti utinya sudah mengharapkan gilirannya.
![]() |
| "More, papa. More!" |
Monday, February 27, 2012
Kado Untukmu
Beberapa waktu lalu saya sempat jalan-jalan sekilas di blog Dee Lestari. Menelusuri judul demi judul tulisan yang pernah di-posting olehnya. Dan saya tertarik pada posting yang ada foto hitam-putih seorang perempuan berambut panjang yang saya tebak adalah ibunya. Ternyata benar, perempuan di foto itu adalah mendiang ibu Dee Lestari. Yang menarik dari post tersebut adalah saat dia berkata dia belum sempat mengenal sosok ibunya, pun sebaliknya; mungkin ibunya belum sempat mengenal anaknya juga. As a person. Sebagai seorang pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali terjebak dalam peran-peran yang lekat dengan kita, yang mau tidak mau harus kita mainkan. Misalnya saya, saya adalah seorang anak, saudara perempuan, istri, dan ibu. Saya adalah teman untuk teman-teman saya, mahasiswa bagi dosen saya. The list goes on. Begitu pintarnya kita bermain dalam peran-peran tersebut, sehingga terkadang kita lupa untuk kembali mencerna pribadi kita sendiri. Boro-boro mengambil waktu untuk berkenalan dengan pribadi lain di sekitar kita. Begitu kira-kira sepintas awal tulisan Dee dalam blognya.
Apa yang dikatakannya memang benar, setidaknya untuk saya. I can relate to what she said about her relationship with her late mother. Pikiran saya kemudian mengambil langkah untuk menyusuri labirin memori dalam otak saya dan mengevaluasi hubungan-hubungan yang saya punya dengan orang-orang di sekitar saya. My mind went: sepertinya pola hubunganku dengan sebagian besar orang dalam keluarga terbelenggu oleh peran-peran yang kami mainkan. Jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati, yang ada hanyalah penyampaian ekspektasi dari si A ke si B, dan penerimaan ekspektasi oleh B tanpa adanya komunikasi timbal balik untuk kebaikan keduanya (terutama si B). Lalu saya berpikir lagi, mengamati dan mencari dalam gudang memori saya tentang betapa banyaknya keinginan dan harapan saya yang tidak sempat saya perjuangkan karena saya terlalu baik berperan sebagai anak. Dan semaraklah peperangan dalam batin saya karena saya terpenjara, ingin bebas, namun tidak punya keberanian untuk melakukannya*eh saya kok jadi curcol*. Intinya saya merasa belum dihadiahi dan belum bisa menghadiahi keluarga saya dengan sebuah ketelanjangan.
Ya, kata yang berkonotasi vulgar memang. Tapi, mengutip guru saya “hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”. Telanjang. Menjadi telanjang. Ada dua arti yang melekat pada kata tersebut, arti harafiah dan kiasan. Menurut saya makna kiasan dari menjadi telanjang berarti dengan berani membeberkan pada dunia diri kita yang sebenarnya. Tanpa pretensi. Ga ada lagi jaim. Namun bagaimana lagi, hal itu adalah tabu dalam masyarakat kita. Seolah kita tidak baik dengan apa adanya diri kita. Lucunya lagi, kita seringkali merasa berkewajiban untuk memenuhi harapan yang mereka jangkarkan pada kita. Padahal mungkin aja harapan itu ga masuk akal atau ga cocok dengan kita. Contohnya adalah anggapan jamak bahwa hidup yang “sempurna” adalah lulus kuliah cepet, dapet kerja bagus di perusahaan top dengan gaji selangit, lalu menikah. Kalau sudah begitu tercapailah sudah cita-cita bangsa. Padahal menurut saya tiga rangkaian itu terdengar membosankan. Tidak saya pungkiri, dulu saya lulus kuliah cepet dan saat ini kepengen dapet kerjaan yang hasilnya selangit. I mean siapa sih yang ga mau berpenghasilan selangit?! Tapi bagi saya itu bukan tujuan. Itu hanyalah bagian dari cerita perjalanan hidup saya. Kalau memungkinkan, keluarga yang saya bina dan uang yang Tuhan beri melalui pekerjaan bisa dijadikan teman seperjalanan dan alat untuk menemukan tujuan akhir hidup saya. Yak, benar! Saya masih bingung tujuan akhir saya. The road is still under construction. Curcol lagi. Tapi begitulah kira-kira yang saya inginkan, berproses bersama orang-orang yang saya cintai dan menggunakan rejeki materiil yang telah diamanahkan pada saya untuk menemukan dan menggapai tujuan itu. Namun sayangnya, saya masih belum bisa all out menjadi telanjang tentang ini dengan keluarga saya; mainly because kita ga sealiran. Untung nemu suami yang sealiran, jadi lebih ringanlah jalanku karena “baju” yang kupakai dapat kutanggalkan saat bersamanya. Betapa saya ingin menghadiahi ketelanjangan pada mama, abi, dan adik-adik saya. Supaya mereka pun menghadiahi saya hal yang sama. Jadi kami benar-benar saling mengenal sebagai pribadi, bukan sebagai anak, orang tua, atau saudara.
Begitulah sekelumit tentang harapan, tujuan, dan ketelanjangan. Sudahkah anda telanjang? Siapa yang ingin anda hadiahi ketelanjangan anda? Karena “hadiah paling baik yang dapat kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”.
Apa yang dikatakannya memang benar, setidaknya untuk saya. I can relate to what she said about her relationship with her late mother. Pikiran saya kemudian mengambil langkah untuk menyusuri labirin memori dalam otak saya dan mengevaluasi hubungan-hubungan yang saya punya dengan orang-orang di sekitar saya. My mind went: sepertinya pola hubunganku dengan sebagian besar orang dalam keluarga terbelenggu oleh peran-peran yang kami mainkan. Jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati, yang ada hanyalah penyampaian ekspektasi dari si A ke si B, dan penerimaan ekspektasi oleh B tanpa adanya komunikasi timbal balik untuk kebaikan keduanya (terutama si B). Lalu saya berpikir lagi, mengamati dan mencari dalam gudang memori saya tentang betapa banyaknya keinginan dan harapan saya yang tidak sempat saya perjuangkan karena saya terlalu baik berperan sebagai anak. Dan semaraklah peperangan dalam batin saya karena saya terpenjara, ingin bebas, namun tidak punya keberanian untuk melakukannya*eh saya kok jadi curcol*. Intinya saya merasa belum dihadiahi dan belum bisa menghadiahi keluarga saya dengan sebuah ketelanjangan.
Ya, kata yang berkonotasi vulgar memang. Tapi, mengutip guru saya “hadiah terbaik yang bisa kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”. Telanjang. Menjadi telanjang. Ada dua arti yang melekat pada kata tersebut, arti harafiah dan kiasan. Menurut saya makna kiasan dari menjadi telanjang berarti dengan berani membeberkan pada dunia diri kita yang sebenarnya. Tanpa pretensi. Ga ada lagi jaim. Namun bagaimana lagi, hal itu adalah tabu dalam masyarakat kita. Seolah kita tidak baik dengan apa adanya diri kita. Lucunya lagi, kita seringkali merasa berkewajiban untuk memenuhi harapan yang mereka jangkarkan pada kita. Padahal mungkin aja harapan itu ga masuk akal atau ga cocok dengan kita. Contohnya adalah anggapan jamak bahwa hidup yang “sempurna” adalah lulus kuliah cepet, dapet kerja bagus di perusahaan top dengan gaji selangit, lalu menikah. Kalau sudah begitu tercapailah sudah cita-cita bangsa. Padahal menurut saya tiga rangkaian itu terdengar membosankan. Tidak saya pungkiri, dulu saya lulus kuliah cepet dan saat ini kepengen dapet kerjaan yang hasilnya selangit. I mean siapa sih yang ga mau berpenghasilan selangit?! Tapi bagi saya itu bukan tujuan. Itu hanyalah bagian dari cerita perjalanan hidup saya. Kalau memungkinkan, keluarga yang saya bina dan uang yang Tuhan beri melalui pekerjaan bisa dijadikan teman seperjalanan dan alat untuk menemukan tujuan akhir hidup saya. Yak, benar! Saya masih bingung tujuan akhir saya. The road is still under construction. Curcol lagi. Tapi begitulah kira-kira yang saya inginkan, berproses bersama orang-orang yang saya cintai dan menggunakan rejeki materiil yang telah diamanahkan pada saya untuk menemukan dan menggapai tujuan itu. Namun sayangnya, saya masih belum bisa all out menjadi telanjang tentang ini dengan keluarga saya; mainly because kita ga sealiran. Untung nemu suami yang sealiran, jadi lebih ringanlah jalanku karena “baju” yang kupakai dapat kutanggalkan saat bersamanya. Betapa saya ingin menghadiahi ketelanjangan pada mama, abi, dan adik-adik saya. Supaya mereka pun menghadiahi saya hal yang sama. Jadi kami benar-benar saling mengenal sebagai pribadi, bukan sebagai anak, orang tua, atau saudara.
Begitulah sekelumit tentang harapan, tujuan, dan ketelanjangan. Sudahkah anda telanjang? Siapa yang ingin anda hadiahi ketelanjangan anda? Karena “hadiah paling baik yang dapat kita berikan pada orang lain adalah ketelanjangan”.
Wednesday, February 15, 2012
That Little Girl
Hari ini sebenarnya
mungkin bukan pertama kali aku bersinggungan atau berhubungan dengan hatiku. Aku
yakin hatiku sudah berjuta-juta kali mencoba untuk berkenalan denganku. Namun aku
belum yakin, belum siap, belum mau untuk berkenalan dengannya. So, there it
was. Hari ini akhirnya secara resmi aku berkenalan dengan hatiku sendiri. Hatiku…
Luar biasa hebat. Penuh dengan keluasan dan kedalaman, yang menjadikannya penuh
kasih dan kebijaksanaan. Hatiku kuat. Hatiku selalu mencoba untuk mengingatkan bahwa
aku adalah individu yang kuat. Namun selama ini pikiran terlalu mendominasi kehidupanku.
Ya, aktivitas di dalam otakku terlampau sibuk. Sering sekali melontarkan judgement-judgement
negative tentang diriku sendiri. Dan aku seringkali, selalu, teryakinkan bahwa aku
adalah individu yang lemah, jelek, dan segala macam sifat buruk lainnya. Padahal,
aku baik-baik saja. Aku adalah individu yang kuat. Kekuatan itu selama ini terpendam.
Terkubur dibawah bangunan kokoh bernama pikiran.
Aku terpesona. Begitu sangat terpesona. Seperti menemukan semangat baru, menemukan kekuatan baru. Aku merasa tidak sendirian, ada teman yang selalu setia menemani walau aku sedang “sendirian”. Dan hal ini membangkitkan kekuatan baru. Hatiku adalah seorang gadis kecil dengan gaun putih dan mahkota bunga. Cantik. Seperti matahari, cerah. Ceria. Bahagia. Selalu tertawa. Namun dibalik itu semua, ada kedewasaan dan kebijaksanaan polos khas anak-anak yang menjadi pondasi karakternya. Itulah aku.
Tentang Pohon
Berikan sedikit kebijaksanaanmu padaku
Ajari aku tentang kelembutanmu
Tentang keanggunanmu
Kau tampak diam saja namun daya hidupmu besar
Jauh lebih besar daripada kami
Aku tak pandai menguntai kata untuk mendeskripsikan
dengan indah getaran yang kurasa saat melihatmu
Kau begitu teguh... damai
Damainya mengayomi
Sang Pen(c)ari
Pernah suatu ketika aku suka sekali menonton atau membaca
buku-buku motivasional. Menurutku banyak dari baris-baris kata yang diucapkan atau
ditorehkan bisa memberikan seberkas insight untukku. That’s why I liked such
books or tv shows. Namun suatu ketika aku merasa sangat jenuh, jauh melebihi bosan.
Jenuh dengan (waktu itu) ketidak mampuanku mencapai goal setting yang
kutetapkan. Frustasi dengan situasi kegagalan itu, ditambah dengan omelan dari
mama tersayang menyangkut pencapaian goal setting tersebut. Jenuh dengan segala
konsep muluk-muluk yang dibicarakan oleh motivator-motivator itu. Memang,
konsep mereka bagus semua, beberapa juga menyentuh hati dan pikiran. Tapi saat itu
aku merasa, what if they’re all just bullshit? All these concepts? Bagaimana jika
sebetulnya tidak ada konsep sama sekali dalam menjalani hidup ini? Bagaimana jika
yang dibutuhkan hanya kesederhanaan? Tapi itu pun juga masih termasuk dalam kategori
konsep.
Saat itu aku berpikir, all those motivators are
great, but sometimes they make our (my, to be specific) life a tiny bit
complicated. Menurutku sih, kita jadi semacam terjebak dengan konsep-konsep,
sehingga (mungkin) lupa untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri itu seperti
apa? Begitu logikaku bertanya. Disinilah.. sekali lagi terjebak dalam
operasionalisasi. Begitulah. Aku selalu suka untuk bertanya, mengejar lebih dalam,
menuntut operasionalisasi agar aku bisa paham. Ada yang bilang bahwa tidak usah
bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan. Tetapi ini bagian dari
pencarianku. Bagian dari pencarian atas diriku sendiri. Ya, begitulah aku. Orang
yang masih mencari. Mencari apa, aku juga tidak tahu. Jangan-jangan ini cuma bentuk
lain dari konsep-konsep yang dijejalkan pada kita? I don’t know.
Tapi aku suka bertanya. Aku suka bertanya tentang hidup,
tentang kehidupan, tentang kita, tentang aku. Itu adalah bagian dari dahagaku atas
kebutuhan terhadap sesuatu yang aku sendiri belum tahu juga. Kebermaknaan mungkin?
Lagi-lagi itu merupakan konsep. Hahahaha. Mungkinkah konsep-konsep ini dilahirkan
untuk kemudian dianut, dipahami, lalu dipertanyakan untuk pada akhirnya mengantarkan
kita pada Pengetahuan Sejati?
Dari tadi aku berputar-putar gak jelas. Pikirku berkecamuk,
saling menyanggah dan kadang saling mendukung pemikiran yang tercetus. Bagaikan
kembang api yang silih berganti meletus, pikirku mencetus-cetus dalam sepersekian
sekon. Namun aku masih belum memiliki kemampuan untuk menggabungkannya seperti
puzzle sehingga terkadang yang muncul hanyalah kebingungan.
Monday, February 6, 2012
Color Me Softly!
Entah kenapa akhir-akhir ini lagi sukaaa sekali dengan warna ungu dan biru tua. Kesannya misterius, anggun, dan bijaksana. Kemarin saya iseng-iseng mencari tahu apa arti spiritual dari dua warna tersebut; maklum I'm a little superstitious! Dan ini yang saya dapatkan:
Ungu adalah warna untuk good judgment, dan melambangkan magic, misteri, serta royalty. Meletakkan benda-benda berwarna ungu di sekitar blogger sekalian dapat membuat pikiran dan batin tenang. Gunakanlah warna ungu jika sedang ingin:
- menggunakan imaginasi anda secara maksimal
- menyeimbangkan kembali kehidupan anda
- menjauhkan rintangan/halangan
- menenangkan diri, atau membangkitkan semanga
Warna ungu merepresentasikan:
Inspirasi: Ide original dan bagus biasanya tercipta dengan warna ungu - gunakan pada saat anda mencari inspirasi.Imajinasi: Ungu membangkitkan kreativitas - ungu juga menstimulasi aktivitas mimpi.
Individualitas: Ungu adalah warna yang tidak konvensional, individual dan original. Ia tidak suka meniru orang lain dan suka melakukan keinginannya sendiri.
Spiritualitas: Ungu membantu kita saat berdoa atau meditasi, membantu kita bersentuhan dengan alam bawah sadar kita.
Jika kekurangan warna ini akibatnya adalah perasaan tidak berdaya, tidak dapat membuat keputusan, menjadi negatif dan apatis. Tidak ada passion saat melakukan sesuatu. Apabila ada sumbatan pada chakra yang berwarna ini, maka energi spiritual tidak dapat mengalir, dan hidup menjadi stagnan dan tidak bermakna.
![]() |
| The Magic of Purple |
Hmmm... Sounds very very familiar. Keren juga yah! Ternyata hati selalu membisikkan banyak hal tentang kondisi kita. Saya merasa kesukaan saya yang tiba-tiba terhadap warna ungu adalah bisikan hati untuk menyeimbangkan kembali kondisi saya yang saat ini sedang agak down. Bisikan itu kemudian menjadi tindakan ketika saya membeli bahan berwarna ungu tua minggu lalu saat menemani ibu mertua jalan-jalan mencari kain. Saya jatuh cinta dengan kain itu dan dengan spontan muncul keinginan untuk membelinya (mmm.. mungkin bisa agak rancu ya dengan impulsif hihihi). Pada saat membeli kain tersebut saya sebenarnya masih belum memiliki gambaran akan dijadikan apa. Namun sehari kemudian kakak ipar saya datang kerumah dan memberitahu kami bahwa ada sepupu yang akan menikah di bulan Juni nanti. Kakak ipar saya memiliki ide untuk membuat seragam keluarga. Horeeee akhirnya saya tahu kain itu akan jadi apa nantinya. Kain bawahan kebaya! Very excited about this, karena berarti saya akan menjahit kebaya baru! (dasar wanita!). This means more purple! Maybe I really need purple in my life.
Warna lain yang sedang saya gandrungi saat ini adalah biru tua seperti warna laut. Saya suka sekali kain satin warna biru tersebut. Matang, sexy, dan elegan. Ternyata biru adalah simbol dari komunikasi, baik komunikasi keluar maupun ke dalam diri, serta ekspresi diri. Warna biru dapat membawa kegembiraan, ketenangan, ketulusan, keyakinan diri dan kepercayaan (trust) kepada orang lain. Biru adalah warna yang baik untuk urusan karir dan bisnis. Apabila hidup kita kekurangan warna ini, maka kita dapat menarik diri, depresif, manipulatif, tidak dapat diandalkan, ngeyel, dan tidak mau berubah. Kita dapat merasa lemah, takut, tidak dapat mengekspresikan pikiran, tidak konsisten, tergantung, menekan perasaan. Kata kunci untuk warna biru adalah komunikasi, spiritualitas, kontemplasi, misteri, kesabaran, kesucian, kedamaian, trust, healing, kejujuran, dan pemaafan.
![]() | |
| The Power of Blue |
Lagi-lagi terdengar sangat familier di telinga. I really do need to add more blue in my life, especially since it promotes forgiveness and healing. Sekali lagi, saya amazed dengan hati saya yang selalu membisikkan apa yang sedang saya butuhkan. Terimakasih hati.
Selain dua warna yang lagi saya gandrungi di atas, ada satu warna yang telah menjadi all time favourite bagi saya yaitu pink! Warna merah muda dengan berbagai gradasinya selalu menarik hati dan perhatian saya; terutama warna dusty pink atau baby pink. Rasanya sejuk sekali di hati. Being the superstitious person that I am, I also looked up the meaning of the color. Pink adalah warna untuk universal love. Cinta untuk diri sendiri dan orang lain, persahabatan, kasih sayang, harmoni, kedamaian diri. Sifatnya lembut, santai, dan mudah didekati. Hmm... Saya jadi ingat kalau punya gemstone warna pink, rose quartz lebih tepatnya. Saat memakai batu itu sebagai kalung, saya bisa merasakan adanya perbedaan, terutama cara saya menghadapi seseorang yang bermakna bagi saya namun saat ini ada friksi di antara kami.Saya jadi lebih understanding terhadap beliau, dan lebih penuh kasih. Mungkin anda perlu mencobanya! And feel it for yourself.
![]() | |
| The Soft Pink |
So, what color do you like?
Me Time: Bookgasm!
Wuiiih serunya hari ini! Rencana ke kampus untuk KRS-an saya batalkan karena ingin menunggu kabar dari teman-teman yang lain tentang KRS online yang baru akan diselenggarakan. YEP! Took nearly 10 years since the program established that the faculty decides to set up an online KRS system! Finally!!! Tapi bukan itu yang membuat saya senang hari ini! Setelah membatalkan niat saya pergi ke kampus, saya belokkan langkah motor saya ke Jl. Jendral Sudirman, disanalah saya berbelok ke sebuah gedung yang
menjual buku: GRAM*DIA!! Sendiri! Something I rarely have these days, a time alone, berlama-lama doing what I like :D
Tempat itu kadang membosankan untuk saya, namun secara kontradiktif dapat menyejukkan saat jiwa sedang kering. Dan, parkirlah saya di dalam toko itu. Sebenarnya tidak ada keinginan yang pasti buku apa yang ingin saya beli, tapi hal itu tidak menyurutkan niat untuk menyambangi lantai atas, yaitu bagian buku. Di sana saya berjalan menyusuri rak-rak, dan sampailah saya pada bagian agama, bagian yang jarang sekali saya datangi jika sedang berbelanja di sana. Mungkin itu desakan hati, karena terus terang saja akhir-akhir ini saya merasa agak kering. Rindu yang sangat, namun tak tau harus berbuat apa.
Saya menyusuri bagian agama, dan tiba-tiba tertarik dengan sebuah buku karya M. Quraish Shihab tentang doa-doa Asmaul husna. I looked through the book and found a piece that touched me, yaitu asma Allah Al-Lathif yang artinya Maha Lembut. Doanya indah sekali, saya lupa sebagian besar dari doa itu tapi ada yang sangat membekas: "kami tidak meminta takdir yang sudah berlalu untuk diubah, namun berikanlah takdir kami dengan lembut" atau semacamnya, saya tidak ingat persisnya. Subhanallah. Saya terharu sekali. Ya, saat ini saya memang sedang mengalami masa "what if..." dan "kok gitu sih, kok gini sih" dan kata-kata itu menyentuh yang terdalam dari hati saya. Sudah saatnya untuk melepas semua luka masa lalu dan berusaha untuk pulih. Amiin.
![]() |
| Buku karya M. Quraish Shihab yang ada di to-buy-list saya |
Buku itu langsung masuk dalam "to-buy-list" saya, namun saya memutuskan untuk melihat-lihat buku yang lain. Ada beberapa buku yang menurut saya menarik, yang satu tentang 30 kisah sufi, dan yang satu lagi berjudul "Hening Perjalanan Ke Dalam Diri Untuk Mensyukuri Nikmatnya". Setelah membolak balik halaman kedua buku tersebut secara acak, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada buku yang kedua. Menurut saya buku itu pas sesuai kondisi saya saat ini yang membutuhkan siraman rohani. Ada salah satu bagian dalam buku itu yang membahas tentang Cinta Tuhan. Sang penulis tertegun saat seseorang bertanya apakah dirinya mencintai Tuhan. Beliau kemudian merenung, bingung menjawabnya. Beliau berkata bahwa Cinta Tuhan tidak terperi untuk dikatakan dengan kata. Wow! Menarik! Jadilah buku itu saya gembol untuk dibayar.
![]() |
| Ini dia bentuk halaman depan dari buku "Hening" karya Cahya Purnawan |
Dahaga saya untuk melihat-lihat buku lain tidak habis di situ. Saya kemudian menyusuri bagian novel, dan menemukan beberapa yang layak dipertimbangkan untuk dibeli. Namun saat membaca resensi buku yang ada di tangan, mata saya tertuju pada buku biru berjudul "The Geography of Bliss". Hmmm menarik. Judul buku tersebut lebih mirip buku self-help, namun kok ada di bagian novel yaah, pikir saya. Segera setelah selesai membaca resensi buku yang ada di tangan, saya mengambil novel tersebut. Dan langsung jatuh cinta. Tag line novel ini bertuliskan: kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan. Jenius! Saya terheran-heran dengan ide orang ini untuk berkeliling dunia dan mencari tempat mana yang paling bahagia. A little eccentric in a way, but fun!
![]() |
| Ini bentuk depan buku yang menyenangkan itu! |
Itulah sekelumit kisah hari ini, memiliki me-time dan mengalami bookgasm. How do you spend your me-time? What gets you high?
Tuesday, January 31, 2012
Welcome, Angel!
Kemarin pagi saya mendapat kabar kalau kakak sepupu melahirkan anak keduanya. Alhamdulillah. Anak laki-laki lagi, sesuai keinginan bapaknya! Bayinya sehat, lucu banget, nyempluk kayak bakpao dengan berat badan 4kg panjang 50cm. Saya kira ga ada yang nandingin pipi tembemnya Kania, tapi dengan lahirnya dedek bayi yang belum bernama itu maka secara resmi pipi Kania terkalahkan.
Sore harinya kami sekeluarga berkunjung menjenguk the little precious. Saat duduk berbincang dengan kakak, ingatan saya tiba-tiba melayang pada detik-detik saat melahirkan Kania. Masih sangat segar dalam memori. Sekitar 1,5 minggu sebelum Kania lahir dokter kandungan bilang bahwa plasenta saya mengalami pengapuran namun masih cukup berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen janin seminggu kedepan. Being a first timer, saya langsung lemes saat dokter berkata demikian. Saya bisa melihat kekhawatiran yang sama pada suami saya, walaupun dia berhasil menutupinya. Dokter meredakan kekhawatiran kami dengan meminta kami datang lagi hari Senin yang akan datang. Dokter kami ini emang udah jago banget dibidangnya, dapat dilihat dari aura dan tindak tanduknya yang tenang bin santai; like he knows what he's doing. So kekhawatiran kami benar-benar agak mereda.
Hari Senin yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. H-2 lebaran. Saya dan suami berangkat dari rumah pagi-pagi sekali karena takut kehabisan nomor antrian. Maklum, waktu itu bulan puasa, jadi para pasien sudah mengirim suami/ ibu/ sodara lainnya untuk mengantri sejak ba'da subuh. Alhasil dua kali kami kehabisan nomor. Anyway, begitu sampai di rumah sakit bersalin ternyata kami sudah kehabisan normor. Jadi kami pulang dan kemudian balik lagi pukul 9.00. Kami langsung menuju ruang bidan dan menceritakan kondisi saya. Untungnya tidak lama kemudian saya diminta untuk masuk untuk rekam jantung janin. Setelah itu saya menunggu agak lama sampai dokter tiba untuk periksa dalam. Ternyata saya sudah bukaan dua dan harus observasi 6 jam. Enam jam berlalu, orang tua, sodara, dan mertua saya sudah berkumpul dan check in hotel namun ternyata bukaan tidak bertambah juga. Alhasil kami semua pulang kerumah, dan orang tua serta saudara saya melanjutkan perjalanan ke Madura untuk berlebaran. Saya dan suami kebagian menempati hotel yang sudah terlanjur dibayar. Lumayan, itung-itung honeymoon lagi.
Hari demi hari berlalu, tamu yang saya tunggu-tunggu ga nongol juga. Saat itu saya ngerasa sedih karena teman yang HPL'nya sama udah melahirkan duluan. Saya ga sabar ingin bertemu makhluk kecil yang sudahh berbagi tubuh selama 9 bulan lebih. Berhubung kami tinggal di pinggir jalan raya lintas kota Solo-Semarang, maka si papa bilang pada Kania untuk jangan nongol dulu sampai antrian panjang para pemudik reda. Padahal waktu itu kontraksi sudah datang tiap 10 menit sekali, walaupun masih hilang muncul. Akhirnya hari Minggu tanggal 4 September pagi saya dan suami berangkat ke rumah sakit karena beberapa hari sebelumnya sudah muncul flek. Sesampainya di rumah sakit bersalin, saya melalui prosedur yang sama seperti minggu sebelumnya. Rekam jantung bayi dan periksa dalam. Ternyata sudah bukaan 3. Observasi 4 jam. Selama 4 jam itu kontraksi yang saya rasakan semakin sakit dan semakin pendek interval waktunya. Suami tercinta tidak saya perbolehkan untuk beranjak dari samping tempat tidur. Entah kenapa saya merasa kepanasan walaupun AC di kamar sudah menyala. Suami dengan bingung dan suka rela ngipasin dan ngelus-elus pinggang saya. Oh ya, waktu itu setiap beberapa kali jeda kontraksi saya muntah. Kata bidan mungkin karena ga kuat nahan sakitnya. Emang sakit banget!! Sampai-sampai saya jambak rambut suami, ga nyadar kalau ternyata ibu mertua ada di dekat kami.Hihihi
Jam dinding menunjukkan pukul 15.00, waktunya untuk periksa lagi. Saya dan suami berjalan menuju ruang bidan sambil terhuyung-huyung kesakitan. Rekam jantung janin lagi, periksa bukaan lagi. Jantung si janin masih kuat dan ternyata masih bukaan 3 hampir ke 4. Waktu itu saya diberi opsi untuk pulang atau rangsang. Karena sudah tidak kuat dengan sakitnya, dan enggan bolak balik lagi saya memutuskan untuk rangsang. Jadilah si bidan memasukkan semacam pil kecil ke dalam privat saya. Lalu saya kembali ke kamar. Dorongan untuk muntah sudah agak lama hilang, namun keluhan lain muncul: sesak napas. Dua jam saya biarkan sesak itu hingga akhirnya saya merasa tidak kuat lagi dan minta oksigen. Sebenernya sih kalau bisa oksigennya aja yang dibawa ke kamar, tapi ternyata ga bisa. Ya sudah, saya akhirnya kembali ke ruang bidan/ bersalin persis ketika adzan magrib selesai berkumandang.
Sejak saat itu saya tidak pernah keluar lagi dari ruang bersalin hingga Kania lahir. Lima setengah jam saya dan suami berjuang untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Suami saya dengan setia menemani saya di samping tempat tidur, salah satu tangannya tidak lepas dari kipas dan yang satu lagi tidak lepas dari pinggang saya. Lengan dan bajunya menjadi saksi bisu sekaligus victim dari peristiwa special itu. Setiap kontraksi datang saya pelintir bajunya, saya hujamkan kuku saya ke lengannya. Telinganya jadi pendengar yang baik dari ocehan dan omelan saya; bahkan juga harus menyaksikan saat saya memarahi bidan yang membantu dan pasien lain yang benar-benar tidak ada sangkut pautnya. Oh ya, beberapa kali saya berucap menyerah dan ingin melahirkan C-sect saja. Suami saya sudah pasrah dan menyerahkan opsi itu sepenuhnya pada saya; mungkin karena sudah ga kuat ngeliat saya kesakitan selama berjam-jam. Namun para bidan terus menyemangati, dan beberapa saat setelah itu entah dari mana saya menemukan kepercayaan dan keyakinan diri bahwa saya pasti mampu melahirkan normal. Terlihat raut lega di wajah suami saya yang semakin membuat saya semangat.
Bukaan saya termasuk lama, karena saya ingat bidan beberapa kali menyuntikkan cairan induksi via infus atas perintah dokter. Ketubanpun ga pecah-pecah sampai akhirnya dokter memerintahkan untuk memecahkannya saja. Ternyata cairan ketuban saya sudah hijau. Langsung saja bidan menyuntikkan cairan induksi lagi sesaat setelah konsultasi dengan dokter. Tak terkira bersyukurnya bahwa saya memutuskan untuk induksi saja hari itu. Saya juga bersyukur setiap janin direkam jantung detaknya sangat kuat, dan saya masih bisa merasakan tendangan-tendangan kuatnya bahkan saat sudah bukaan ke 7 atau 8! Kata bidan biasanya di atas bukaan 6 gerakan janin sudah mulai melemah karena fokus untuk keluar. Namun tidak bagi Kaniaku. Dia masih bisa berbagi konsentrasi antara lahir dan nendang-nendang. Hebat!
Dan akhirnya tepat pukul 23.30 bayi saya lahir. Tidak terkira betapa leganya. Namun ternyata saya dan suami belum boleh benar-benar lega karena bayi kami tidak langsung menangis. Para bidan kemudian sibuk memasukkan selang ke hidung dan mulut Kania. Alhamdulillah setelah semua cairan keluar, dia bisa menangis. Keras. Persis seperti bayangan saya sebelumnya.
Setelah itu bidan menyerahkan Kania pada saya untuk Inisiasi Menyusui Dini. Sesuatu yang sudah lama saya putuskan secara keukeuh untuk wajib harus saya jalani. Selama IMD, saya tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa kecil, kadang menangis ringan penuh takjub. Ada bayi manusia yang ngendon di rahim dan keluar melalui saya. Berulang kali saya berucap I love you pada Kania kecil, dan menggumam betapa kecil dan cantiknya dia. Pengalaman yang luar biasa. Rasa bahagia juga membuncah saat Kania berhasil menemukan puting saya dan berhasil menyusu untuk pertama kali. Anak pintar. Kemudian bidan datang meminta si kecil untuk dibersihkan. Namun saya merasa belum puas bermesraan dengan bayi saya, jadi saya minta waktu untuk skin-to-skin contact lebih lama. Total sekitar hampir 45 menit saya skin-to-skin contact dengan Kania, dan Kania berhasil menemukan puting saya di sekitar menit ke 30. Benar-benar menakjubkan.
Terimakasih untuk dedek bayi yang baru lahir kemarin, telah mengingatkan saya pada proses 5,5 jam di ruang bersalin yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Terimakasih pada Kania yang begitu hebat telah datang menyemarakkan kehidupan papa-bundanya. Terimakasih pada Tuhan SWT yang memberi saya kesempatan untuk menjadi bagian dari keajaiban penciptaan. Alhamdulillah.
New Look
Hey guys! Setelah beberapa jam ngutak-atik blog ini, saya persembahkan pada kawan-kawan sekalian tampilan baru untuk blog saya! I love it, and I hope you enjoy it. This new look reflects me more articulately, so to make you get the feel of what I'm like. Read on guys!
Sexy Woman
Heey ho! Sudah agak lama yah saya ga menyapa blogger sekalian. Minggu lalu saya holiday kecil di tempat mertua di Boyolali. Berhubung modem sudah habis pulsanya dan tidak kami isi ulang, jadi saya tidak terkoneksi. Anyhoo, di sana saya bermasak-masak ria. Hobi yang sudah lama saya idealkan sebagai seorang perempuan, namun baru akhir-akhir ini saya praktekkan secara nyata; tepatnya sejak saya menikah. Dari dulu saya selalu merasa sexy ketika sedang memasak, sesepele apapun masakan yang saya buat. Apalagi jika memasak untuk suami, terbayang ga betapa sexy perasaan saya?! Baik, lanjuuut.
Masakan pertama saya untuk suami adalah beef blackpepper (ga ada ilustrasi, karena begitu jadi langsung disantap oleh suami). Cukup sukses lah waktu itu. Masih teringat jelas kami berdua menyantapnya secara lesehan di depan TV, semeja kecil berdua (romantis masa kini udah bukan sepiring berdua lagi, tapi semeja kecil berdua :p ). Masakan kedua yang saya buat adalah salmon asam manis yang alhamdulillah juga sukses. Resepnya saya ambil dari masakan asam manis, dagingnya diganti dengan daging ikan salmon karena waktu itu saya sedang hamil, jadi suami getol banget dengan segala yang berbau salmon. Alhasil saya buatkan kami berdua salmon asam manis.
![]() | |
| Salmon asam manis a la Dina |
Naaah setelah berbulan-bulan ga masak, maklum kami masih tinggal dengan orang tua saya, akhirnya saya memasak lagi! Saya memasak suki, yang menurut saya agak gagal. Sukiyaki adalah irisan tipis daging sapi, sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara
direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan
telur ayam. Lhah saya menggunakan wajan untuk memasaknya, dan ga pake sayuran atau dicelupin ke kocokan telur ayam; maka dari itu saya kasih nama suki yang saya masak itu "semur Jepang". Tapi sayangnya ga ada jejak dokumentasi dari masakan semur Jepang saya. Lain kali yaa kalo saya masak, saya fotoin deh.
Setelah selesai makan semur Jepang buatan saya, dengan hati meluap-luap saya lanjutkan perjalanan memasak hari itu dengan menyiapkan isi untuk lumpia yang rencananya akan kami santap sambil nonton The Tourist di TV cable. Saya sampai agak nyuekin Kania hari itu karena terlalu bersemangat masak; jadi Kania diambil alih oleh papa dan utinya. Thanks guys :x. Lagi-lagi saya lupa mendokumentasikan masakan lumpia saya, tapi bentuknya masih sewajarnya lumpia kok. Kebayang kan? Okee... Lanjoot. Lumpia itu juga menuai kesuksesan. Belum juga film dimulai lumpianya sudah 1/4 ludes. Saya seorang perempuan yang sepertinya didominasi indera pendengaran, jadi untuk saya pribadi indikator kesuksesan lumpia buatan saya adalah ketika suami dan mertua bilang lumpianya enak! Hari berikutnya ibu mertua saya tiba-tiba bilang bahwa masakan saya enak, padahal jarang masak; dan suami menyemangati saya untuk lebih sering masak. Hati saya berbunga-bungan dan wajah saya pasti ga karuan karena tersipu gimana gitu!
Itu cerita seru dari minggu lalu, my little holiday dan masak-masak seru saya! Alhamdulillah sukses berat ;p dengan demikian saya boleh bangga dan merasa sexy sekali!!
Wednesday, January 18, 2012
Ma Princesse
Sudah hampir 5 bulan ini saya memasuki fase hidup yang baru: motherhood. Tak terkira betapa banyak tawa, senyum, air mata, dan peluh yang tercurah selama 4,5 bulan yang mengesankan ini. Namanya Kania Larasati Endriyanto. Makhluk kecil yang menyebabkan sakit luar biasa pada detik-detik jelang kelahirannya; namun secara kontradiktif juga memberi rasa bahagia yang tak kalah luar biasanya saat ia sudah hadir ke dunia. Rasanya masih segar dalam ingatan saat pertama kali bidan pembantu menyerahkan si kecil padaku untuk IMD. Hanya ada rasa bahagia saja saat itu. Aku dan suamiku tersedot dalam pusaran waktu kekinian. Rasa sakit yang kurasakan selama berjam-jam sebelumnya, dan bahkan rasa mak clekit saat dokter menjahitku sama sekali tak terasa. Sungguh indah. Alhamdulillah Tuhan SWT sudah mempercayaiku dan suamiku untuk menjadi sarana bagi Kania lahir ke dunia ini.
![]() |
| Kania saat pulang dari RSB, 3 days old |
Saya belajar banyak hal hari demi hari menjalani waktu bersama dengan Kania. Saya belajar tentang diri sendiri, tentang bagaimana diri saya ini. Saya belajar mengenai berbagi, dalam hal ini berbagi waktu. Kadang rasanya sulit sekali berbagi waktu dengan bayiku, maksud saya saat saya sedang "me time" dan tiba-tiba bayi saya menangis atau apapun. Pada saat itu kadang saya merasa agak kesal, namun di situ muncul kesempatan bagi saya untuk belajar tentang ikhlas. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel "Negeri Lima Menara", saya acapkali berdoa dan berucap "saya ikhlas" untuk mengikhlaskan hati dan diri saya sepenuhnya saat harus berbagi waktu dengan anak saya. Semua saya pelajari agar dapat menjadi ibu yang perhatian bagi anaknya, karena sejujurnya sampai saat ini saya masih harus belajar banyak untuk menjadi pribadi yang perhatian. Terkadang egoisme atau carelessness masih suka hinggap dalam diri saya.
Hal lain yang saya pelajari selama 4,5 bulan interaksi saya dengan bayi saya adalah kesabaran. Saya adalah pribadi yang secara emosi reaktif. Begitu ada stimulus langsung saya respon, baik secara psikologis atau secara fisik, sampai-sampai acapkali tidak ada ruang untuk menarik nafas agar dapat memberi logika kesempatan. Dengan adanya Kania dalam hidup saya, saya belajar untuk menarik nafas sebentar untuk memperbaiki respon otomatis saya, entah itu merasa sedih, jengkel, marah atau apapun. Saya menyadari sepenuhnya bahwa apa yang saya rasakan pasti akan ter-transfer kepada bayi saya, sehingga saya sedikit demi sedikit belajar untuk memberi ruang supaya urat kesabaran saya sedikit lebih panjang. Perjalanan sehidup semati ini memberi saya peluang belajar yang teramat banyak.
Seolah tiada bosannya ia mengajari saya, hari ini Kania melakukan sesuatu yang khas anak-anak dan membuat saya tertegun. Saat itu saya sedang bermain dengannya, dan tiba-tiba ia menangis terusik oleh papanya yang menghujaninya dengan ciuman gemas. Tangisan itu berhenti seketika saat saya menyanyikan salah satu lagu kesukaannya, twinkle twinkle little star. Apa yang telah ia ajarkan pada saya? Suatu filosofi hidup yang dalam. Dari dulu saya yakin bahwa anak-anak atau bayi sekalipun adalah guru yang luar biasa bagi siapa saja yang berhenti sejenak dan mengosongkan diri. Sehingga saya sangat bersyukur memiliki guru kecil milik saya sendiri.
Anak-anak pandai sekali dalam hal living in the moment. Inilah yang Kania ajarkan pada saya hari ini. To live in the moment. Sesuatu yang sudah tidak asing bagi saya, suatu cerita lama, namun sampai detik ini saya masih terseok-seok untuk mempraktekkannya. Kania yang langsung ceria segera setelah ia menangis, mengajarkan pada saya bahwa jika kita hidup pada kekinian maka luka-luka batin dan kemarahan di masa lalu tidaklah penting. Semua itu sudah tidak ada; yang ada hanyalah stimulus yang mendatangi saya saat ini. Stimulus dan respon yang saya berikan saat ini pun pada akhirnya akan berlalu. Gone. Raib. Diganti dengan kekinian yang lain. Hebat! Bayi saya sangat pandai dalam mengosongkan diri! Dia juga sangat pandai dalam menjadi sarana bagi Tuhan SWT mengajari saya banyak hal.
Perjalanan saya dengan anak saya merupakan proses belajar tiada henti untuk anak saya dan terutama untuk saya. Saya masih ingat betapa excited'nya saya saat menanti kelahiran bayi saya; I was very much looking forward to the lessons that she brings for me and her dad. Ternyata banyak pelajaran yang guru kecil ini berikan pada kedua orang tuanya. And I feel blessed. Terima kasih guru kecilku. Mommy always loves you.
![]() | ||
| Kania saat lagi diisengin bundanya, last month |
Monday, January 16, 2012
Tesis yang Diduakan
Wow! Tak terasa sudah seharian penuh saya mantengin layar laptop gara-gara keasyikan berbenah blog baru saya. Seneng rasanya bisa melakukan banyak hal di blog ini. Semoga blog ini bisa terus terisi oleh gores-gores kata dari saya. Amin.
Saya kagum dengan kemampuan saya mendekam di depan laptop seharian ini. Sungguh tak terasa lelah, berat, ataupun bosan. Sesuatu yang baru ini sungguh membuat saya tertarik bukan main. Mungkin itulah yang dinamakan semangat mengerjakan sesuatu karena kita suka. Hasilnya maksimal, dan mungkin saja sampai batas hampir bisa dieksploitasi hehe.. Maksud saya se-lama apapun waktu yang kita gunakan untuk mengerjakan hal tersebut kita tidak akan merasa berat sama sekali. Kita menjadi aliran, mengalir dalam kekinian aktivitas yang sedang kita lakukan. Itu ada teorinya lho, namanya The Flow Theory dari Mihaly Csikszenmihalyi (dibaca ciksenmihai, what a mouthful!). Beliau adalah dosen psikologi berasal dari Hungaria, namun telah lama bermigrasi ke US. Let's cut the chase, so how does it feel to be in the "flow"? Berikut gambarannya:
- Completely involved, focused, concentrating - with this either due to innate curiosity or as the result of training
- Sense of ecstasy - of being outside everyday reality
- Great inner clarity - knowing what needs to be done and how well it is going
- Knowing the activity is doable - that the skills are adequate, and neither anxious or bored
- Sense of serenity - no worries about self, feeling of growing beyond the boundaries of ego - afterwards feeling of transcending ego in ways not thought possible
- Timeliness - thoroughly focused on present, don't notice time passing
- Intrinsic motivation - whatever produces "flow" becomes its own reward
Jadi intinya seperti yang sudah saya sedikit singgung di atas: pemusatan perhatian pada sesuatu aktivitas hingga lupa waktu yang pada saat bersamaan menimbulkan perasaan senang karena kita berada pada kekinian; lupa akan segala sesuatu di luar aktivitas yang sedang kita lakukan itu. Ada satu hal yang agaknya ingin sekali bisa saya lakukan hingga mencapai the flow itu tadi, yaitu thesis S2 saya. Entah mengapa saya merasa agak kesulitan untuk mengajak diri saya bekerja sama dalam mengumpulkan semangat untuk mengerjakannya. Padahal sungguh saya sudah sangat ingin menyelesaikannya. Hanya saja tidak cukup besar hingga membuat saya bertindak sedikit lebih jauh. Selama ini saya hanya berpatokan bahwa saya pasti selesai, dan tidak pernah terlalu mengkhawatirkan prosesnya. Padahal proses yang saya lalui sampai dengan tesis tersebut selesai adalah yang paling penting. Saya selalu yakin bahwa Tuhan pasti memberi jalan, namun saya tidak pernah berusaha dengan sedikit lebih keras untuk membantu Tuhan membuka jalan itu.
Saya sangat terinsipirasi oleh novel karya A Fuadi yang berjudul "Negeri Lima Menara". Di situ disinggung soal slogan para santri yaitu man jadda wa jada. Saya sungguh terkesima dengan slogan itu; siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Konon, slogan itu merupakan mantra sakti mandraguna bagi para santri di novel tersebut. Benar, mantra tersebut memang sakti karena saya pun terkena imbasnya. Setelah benar-benar menghayati sepenggal ungkapan berbahasa Arab tersebut saya jadi merenung dan mengaplikasikannya pada kehidupan saya, terutama yang bagian tesis. Waktu itu semangat tersebut begitu besar, saya berapi-api hingga siap sedia untuk meluangkan waktu mencari jurnal; sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan untuk memulai tesis saya. Sampai detik ini saya masih bersemangat, namun entah kenapa sudah mulai kendur. Padahal ada target yang harus saya capai, yaitu lulus semester ini. Yah, semoga tulisan ini menjadi refleksi dan sekaligus cambuk bagi saya untuk terus bersemangat mengerjakan tesis tercinta yang telah lama ku duakan. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. I welcome the flow to come to me #2012wishlist (waks hehe)!
Tesis, tunggu aku. Aku datang menjemputmu.
Sunday, January 15, 2012
A Calling
Yak, ini adalah blog ke-4 saya. Tak terasa sudah empat kali saya membuat blog, gara-gara lupa dengan password atau ID. Tak apa, yang penting masih bisa menyalurkan hobi menulis yang akhir-akhir ini sering kali tidak disalurkan. Banyak yang spinning in my head, dan seringkali banyaknya hal yang berlarian di pikiran saya membuat saya merasa tersiksa sendiri. Pikiran-pikiran tersebut berlari memutar seperti pintalan bola benang yang harus diurai sedikit demi sedikit agar bisa ketemu ujungnya. Menulis telah lama menjadi terapi untuk saya namun sayangnya belakangan ini tidak pernah berani saya lakukan karena seringkali setiap akan menulis ada rasa takut yang hinggap. Rasa takut untuk memulai karena terlalu memikirkan bahasa, sehingga akhirnya pemikiran atau ide atau keluh kesah apapun yang ada di benak tidak bisa mengalir keluar. Semoga saja rasa takut itu sedikit demi sedikit bisa terkikis dengan blog baru ini. I welcome bravery. I welcome strength into my life, even if it's only to write down my ideas, thoughts, or feelings.
Ada sesuatu yang ingin kuceritakan tentang hari ini. Sesuatu yang membuat hatiku berdesir, degup jantungku berlarian seperti anak kecil bermain kejar-kejaran. Ya.Sesuatu itu adalah tentang mengajar. Sudah lama aku merasa sangat senang mengajar, tapi ada kalanya - seringkali - aku menyangkalnya. Siang tadi aku membaca tweet dari seorang guru yang menyatakan bahwa kreativitas seorang anak mati begitu ia menginjak pendidikan SD. Saya kurang lebih setuju dengan pernyataan itu. Teringat kembali masa-masa SD dulu, harus masuk kelas pukul 6.45 pagi, pulang hampir pukul 3 sore. Sungguh melelahkan, padahal yang kami lakukan "hanya" duduk dan mendengarkan guru, tangan sedekap ya anak-anak. Berangkat dari tweet itu, aku jadi terlintas beberapa cara yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu mengajarku jika aku jadi dosen. Mungkin ini ya yang namanya bisikan hati. Aku sering sekali menyangkal keinginan untuk mengajar karena tidak yakin akan kemampuanku namun terlalu banyak orang menyarankan supaya aku menjadi pengajar. Aku tidak suka, aku ingin ketika aku memutuskan sesuatu asalnya dari hati dan pikiranku sendiri. Saat ini, detik ini saja aku masih menyangkal ide untuk menjadi pengajar walaupun aku tahu betapa berapi-apinya hatiku dan perasaanku saat membayangkan apa saja yang bisa kulakukan untuk anak didikku. Tapi satu hal yang aku yakin adalah my calling, apapun itu pasti akan menemukan jalannya untuk menggugahku. Maybe not now.
Sudah lama aku yakin dengan pendidikan. I believe in education. I have a passion to share knowledge, to teach. Tadi siang aku membaca buku karya tetanggaku yang seorang guru SMA. Sebuah bunga rampai indah tentang dunia sekolah dan khususnya guru. Aku begitu tergugah saat ia bilang bahwa hitam putihnya pengalaman seorang siswa di sekolah ada di tangan guru. Yes, I very much agree. Bahkan menurutku hitam putihnya sebuah bangsa salah satunya ada di tangan para pendidik. Tidak memungkiri bahwa peran utama tentu ada pada orang tua, namun sekolah adalah rumah kedua bagi seorang pelajar. Sekolah adalah rumah kedua bagi pondasi masa depan bangsa, para calon pemimpin masa depan. Orang tua mereka di sana adalah guru. Betapa mulianya seorang guru, betapa besar tanggung jawab yang mereka emban. Mereka adalah ujung tombak dari pembukaan UUD 1945 yang bagian mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru, janganlah mematikan kreativitas anak dengan gaya mengajarmu yang kaku. Jangan buat mereka bungkam karena wajah dinginmu saat mengajar mata pelajaran yang susahnya kau banggakan. Guru, sentuhlah mereka dengan cinta. Sentuhlah dirimu dengan cinta.
Aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi bagian dari dunia yang mulia itu. Aku ingin menyentuh sebanyak mungkin pribadi, agar mereka terinspirasi menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, bagi lingkungannya, dan bagi alam raya. Inspirasi bagaikan ombak yang saling kejar-kejaran, sebuah cycle yang tidak akan putus kecuali kita sendiri memutuskan untuk memutusnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)














